terunik teraneh terselubung blogspot.com terlucu menarik di dunia tapi nyata dan terlangka aneh22 video gambar ajaib bin ajaib kau tuhan sungguh penuh kuasa unik77.tk unik4u unic77.tk gokil extreme medis kriminal arkeologi antariksa UFO dinosaurus kita flora fauna misteri bumi militer hiburan ekonomi bahasa teknologi sejarah politik tokoh hukum mumi rumor motivasi moral hewan tumbuhan tips trick kuliner otomotif pendidikan galleri musik sms hantu wallpaper artis indonesia foto hot syur panas download
>10.000 artikel menarik ada disini,silahkan cari:
Asa Penyandang Disabilitas dan ODGJ di Bumi Sumba, NTT - my blog
May 2nd 2024, 03:19, by Ochi Amanaturrosyidah, kumparanNEWS
Keluarga dari anak penyandang disabilitas Cerebral Palsy, Juliano Ngail Mbiliyora (3) di Desa Umamanu, Kecamatan Lewa Tidahu, Kabupaten Sumba Timur, NTT, Rabu (1/5/2024). Foto: Fadlan Nuril Fahmi/kumparan
Juliano Ngail Mbiliyora baru tiga tahun usianya. Di usia ini, seharusnya Jano--begitu keluarga memanggilnya--sedang gencar-gencarnya bermain dan mengenal lingkungan sekitar. Namun cerebral palsy yang ia derita membuatnya hanya bisa terbaring di rumah.
Ibu Jabo, Yanti Pendu Jola, yang kini baru berusia 30 tahun merupakan penyandang disabilitas intelektual, sama seperti nenek Jano, Roslin Banja Oru (47). Hanya anak kedua Roslin, Minto (22), saja yang terlahir tanpa mewarisi genetik disabilitas.
Dengan kondisi keluarganya, Jano biasanya diasuh oleh paman dari ibunya, Soleman Reku Panu (48), seorang petani sederhana yang tinggal di Desa Umamanu, Kecamatan Lewa Tidahu, Sumba Timur. Di rumahnya itu, Soleman tak hanya mengurus ladang jagung, tapi juga beberapa hewan ternak seperti ayam, babi, kambing, hingga itik.
Kepala Desa Umamanu, Roldias Rongga Lapu di kediaman keluarga anak penyandang disabilitas Cerebral Palsy, Juliano Ngail Mbiliyora (3), Kecamatan Lewa Tidahu, Kabupaten Sumba Timur, NTT, Rabu (1/5/2024). Foto: Fadlan Nuril Fahmi/kumparan
Dua hingga tiga kali sebulan Jano diantar ke rumah sakit yang ada di Waingapu, Sumba Timur, untuk kontrol rutin. Namun karena dokter menyatakan kondisi Jano masih lemah, keluarga pun mulai ragu untuk melanjutkan pengobatan di Kupang hingga operasi karena risikonya terlalu besar.
"Ini juga kan namanya nyawa manusia. Kata dokter, bisa mati di meja operasi," ucap Kepala Desa Umamanu, Roldias Rongga Lapu, mewakili keluarga Jano, Rabu (1/5).
Saat ini keluarga pun memilih memberikan Jano terapi tradisional saja. Setiap pagi tangan dan jari-jari Jano diurut untuk mengaktifkan kembali sarafnya. Jado juga mulai dilatih menggunakan mainan yang bisa melatih otot motorik dan belajar berjalan.
Keluarga dari penyandang disabilitas ODGJ Yuliana (69), Nanang Punto Adi Wibowo (45) dan Syania Kartika Wibowo (18) di kediamannya, Desa Tanarara, Kecamatan Lewa, Kabupaten Sumba Timur, NTT, Rabu (1/5/2024). Foto: Fadlan Nuril Fahmi/kumparan
Lain halnya dengan Yuliana, lansia 60 tahun yang menyandang ODGJ. Dari tiga anaknya, hanya anak sulungnya, Nanang Punto Adi Wibowo (45), saja yang tinggal bersama Yuliana.
Untuk mengurus ibunya, Nanang yang berprofesi sebagai petani itu berbagi tugas dengan sang anak, Syania Kartika Wibowo (18). Jika Tika sekolah, Nanang yang mengurus Yuliana; pun sebaliknya jika Nanang sedang di ladang, Tika yang mengurus neneknya.
Gangguan kejiwaan yang diderita oleh Yuliana ini berawal saat ia terkena komplikasi penyakit yang membuatnya mengalami stroke ringan. Saat itu, meski sedang sakit, kondisi Yuliana masih terbilang baik.
Yuliana awalnya rutin minum obat untuk menghilangkan komplikasi kolesterol dan hipertensinya, namun ia malah lemas tak berdaya setelahnya. Nanang yang khawatir pun memutuskan agar ibunya tak lanjut minum obat, meski tanpa bertanya ke dokter.
Psikiater RSUD DR. WZ Johannes Kupang, dr. Dickson Legoh, SpKJ saat mengunjungi penyandang disabilitas ODGJ, Yuliana (69) di kawasan Desa Tanarara, Kecamatan Lewa, Kabupaten Sumba Timur, NTT, Rabu (1/5/2024). Foto: Fadlan Nuril Fahmi/kumparan
"Waktu obat habis, dari rumah sakit juga bilang, 'Nanti kalau habis obatnya, ambil lagi'. Mungkin saya juga tidak tanya lagi ke puskesmas. Jadi ketika orang tua saya setelah minum obat langsung lemas, tidak bisa jalan dan bangun, saya langsung setop obat itu," ucap Nanang di kediamannya di Desa Tanarara, Kecamatan Lewa, Sumba Timur.
Sebenarnya, pada 2012 lalu stroke yang dialami oleh Yuliana sudah sempat membaik. Namun karena stres yang berkepanjangan akibat penyakitnya, Yuliana pun mengalami gangguan kejiwaan.
Setiap hari Nanang hanya bisa menggendong Yuliana yang tak lagi bisa berjalan ke luar untuk berjemur di bawah sinar matahari. Ia ingin sekali ibunya punya kursi roda agar bisa kembali ke gereja. Meski dinyatakan menyandang gangguan kejiwaan, semangat Yuliana untuk beribadah dan mendekatkan diri ke Tuhan masih begitu besar.
"Dia kalau sudah lihat orang, mau ke gereja. Memang selama ini dia di kamar saja, tapi kalau ada kursi roda mungkin bisa berjemur, bisa diajak jalan-jalan, bisa didorong dan refreshing," tutur Nanang.
Psikiater RSUD DR. WZ Johannes Kupang, dr. Dickson Legoh, SpKJ saat mengunjungi penyandang disabilitas ODGJ, Yuliana (69) di kawasan Desa Tanarara, Kecamatan Lewa, Kabupaten Sumba Timur, NTT, Rabu (1/5/2024). Foto: Fadlan Nuril Fahmi/kumparan
Psikiater RSUD DR. WZ Johannes Kupang, dr. Dickson Legoh, SpKJ, menjelaskan gangguan kejiwaan bisa disebabkan oleh genetik dan faktor lain, misalnya peristiwa traumatis. Setiap orang, kata Dickson, punya kapasitas terhadap tekanan yang berbeda-beda.
"Kalau ada daya tahan fisik ya contohnya panas sedikit dia langsung sakit kepala, tapi yang lain enggak toh. Berarti daya tahan fisik dia yang kurang. Nah ini daya tahan mental, ditegur sedikit dia langsung drop tapi ada orang yang ditegur sedikit tidak apa-apa, nah itu mempengaruhi karakter setiap orang dari kecilnya," jelas Dickson.
Gangguan mental yang parah, menurut Dickson, biasanya akan diberi obat-obatan di awal terapi. Namun pengobatan kimiawi itu lambat laun akan dikurangi dan diganti dengan kegiatan yang disukai oleh penyandang ODGJ. Selain untuk melatih kemampuan keterampilan, kegiatan ini juga diharapkan bisa membantu memulihkan mereka.
Ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah gangguan kejiwaan, mulai dari menerapkan pola asuh anak sesuai dengan kadar usianya. Menurut Dickson, saat ini masih banyak orang tua yang belum sadar akan hal ini.
Banyak orang tua yang memperlakukan anak yang sudah masuk usia dewasa seperti anak kecil; namun ada juga yang memberikan beban berat kepada anak yang masih di bawah umur, seperti harus bekerja dan sebagainya.
Gangguan mental juga bisa dicegah dari diri sendiri. Misalnya dengan berusaha selalu bersyukur dan menerima realita.
Lebih lanjut, pendamping dari penyandang ODGJ pun harus memiliki pemahaman terkait penyakit yang tengah dialami penyandang ODGJ. Peran pendamping menjadi sangat krusial sebab harus bisa mengkomunikasikan suatu hal dengan baik dan benar kepada orang yang mengalami ODGJ.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar