terunik teraneh terselubung blogspot.com terlucu menarik di dunia tapi nyata dan terlangka aneh22 video gambar ajaib bin ajaib kau tuhan sungguh penuh kuasa unik77.tk unik4u unic77.tk gokil extreme medis kriminal arkeologi antariksa UFO dinosaurus kita flora fauna misteri bumi militer hiburan ekonomi bahasa teknologi sejarah politik tokoh hukum mumi rumor motivasi moral hewan tumbuhan tips trick kuliner otomotif pendidikan galleri musik sms hantu wallpaper artis indonesia foto hot syur panas download
>10.000 artikel menarik ada disini,silahkan cari:
Teknologi AI ChatGPT Cenderung Gambarkan CEO Sebagai Laki-laki, Bukan Perempuan - my blog
Jul 22nd 2024, 20:08, by Judith Aura, kumparanWOMAN
Ilustrasi karakter AI perempuan. Foto: Shutterstock
Teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence, AI) saat ini bisa menciptakan gambar apa pun dengan perintah atau prompt. Sayangnya, menurut penelitian oleh perusahaan finansial Finder, teknologi ini masih dikelilingi oleh bias gender antara perempuan dan laki-laki. Kok, bisa?
Pembuatan gambar AI dilakukan dengan cara memasukkan prompt. Kemudian, teknologi AI bakal menciptakan gambar memakai algoritma dan data yang diajarkan pada mesin, sesuai dengan perintah yang diberikan.
Pada April lalu, Finder melakukan percobaan pembuatan gambar AI lewat ChatGPT. Para peneliti kemudian memerintahkan AI untuk membuat beberapa gambar, yaitu gambar orang-orang yang bekerja di bidang finansial serta orang dengan jabatan tinggi seperti penasihat keuangan atau CEO perusahaan sukses.
Ilustrasi pemimpin laki-laki. Foto: Shutterstock
Hasilnya? Dari total 100 gambar yang dihasilkan AI ChatGPT, 99 di antaranya adalah laki-laki berkulit putih, bukan perempuan. Finder pun menyebut, ini menunjukkan adanya bias gender dalam teknologi AI.
Kemudian, Finder memerintahkan generator gambar AI ChatGPT untuk menciptakan gambar orang yang bekerja sebagai sekretaris. 9 dari 10 foto yang dihasilkan menunjukkan gambar perempuan berkulit putih. Menurut The Guardian, pekerjaan sekretaris kerap kali diasosiasikan sebagai 'pekerjaan perempuan'.
Padahal, menurut laporan Pew Research pada 2023, lebih dari 10 persen perusahaan besar dalam daftar Fortune 500 dipimpin oleh CEO perempuan. Lalu, mengutip New York Post, pada 2021, CEO berkulit putih hanya berjumlah 76 persen.
Pendapat ahli soal bias gender dalam AI
Ilustrasi pemimpin perempuan. Foto: fizkes/Shutterstock
Dikutip dari situs resmi Finder, peneliti di London School of Economics Inggris, Ruhi Khan, mengatakan bahwa bias gender dalam AI lahir dari sistem patriarki di masyarakat.
"ChatGPT muncul di masyarakat patriarkis, dikonseptualisasi dan dikembangkan mayoritas oleh laki-laki dengan bias dan ideologi masing-masing. Lalu, (AI) diajarkan dengan data-data yang punya kelemahan dari sifat historisnya itu," kata Ruhi.
"Jadi, tidak heran jika model-model AI generatif seperti ChatGPT meneruskan nilai-nilai patriarkis tersebut dengan cara mereplikasi norma tersebut," lanjutnya.
Ilustrasi GPT-4, AI baru dari OpenAI, pembuat ChatGPT/ Foto: OpenAI
Selain itu, Ruhi mengatakan bahwa ChatGPT juga menunjukkan respons yang bias gender saat menjawab kata kunci soal perempuan dan laki-laki. Misalnya, ChatGPT akan memberikan sanjungan dan pujian terhadap kinerja laki-laki di tempat kerja.
"Namun, (ChatGPT) selalu merespons bahwa perempuan selalu membutuhkan lebih banyak pelatihan untuk mengembangkan keahlian mereka. Di saat ChatGPT menganggap kemampuan komunikasi laki-laki itu ringkas dan tepat, ChatGPT justru menganggap perempuan perlu pelatihan untuk meningkatkan keahlian komunikasinya demi menghindari kesalahpahaman," jelas Ruhi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar