terunik teraneh terselubung blogspot.com terlucu menarik di dunia tapi nyata dan terlangka aneh22 video gambar ajaib bin ajaib kau tuhan sungguh penuh kuasa unik77.tk unik4u unic77.tk gokil extreme medis kriminal arkeologi antariksa UFO dinosaurus kita flora fauna misteri bumi militer hiburan ekonomi bahasa teknologi sejarah politik tokoh hukum mumi rumor motivasi moral hewan tumbuhan tips trick kuliner otomotif pendidikan galleri musik sms hantu wallpaper artis indonesia foto hot syur panas download

>10.000 artikel menarik ada disini,silahkan cari:

Damai Kultural vs Damai Imperealis - my blog

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Damai Kultural vs Damai Imperealis
Jul 22nd 2024, 09:03, by Dimas Sigit Cahyokusumo, Dimas Sigit Cahyokusumo

Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi
Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi

Setiap manusia di muka bumi pasti sangat menginginkan kehidupan yang tenang, aman, dan damai. Namun, nyatanya keinginan itu hanya berdiam di angan-angan. Hal itu mengingat masih banyaknya penindasan, kerusuhan, dan perang yang terjadi. Telah banyak berbagai inisiatif dari berbagai individu atau lembaga yang mencoba mencari cara untuk menciptakan perdamaian. Tetapi, alih-alih perdamaian itu tercipta malah menimbulkan masalah baru, terkait makna perdamaian yang ingin diupayakan.

Kasus beberapa orang yang dianggap intelektual muda berkunjung ke Israel adalah salah satu contoh yang alih-alih ingin menciptakan perdamaian namun berujung masalah. Niat mereka mungkin ingin menciptakan jembatan untuk menuju perdamaian, akan tetapi salah sasaran. Sebab misi dialog untuk membangun perdamaian yang mereka lakukan masih dalam tataran elite yang sejatinya tidak menyentuh akar persoalannya.

Kunjungan tersebut tentu membuat kita bertanya kembali, lantas perdamaian seperti apa yang ingin diciptakan jika kunjungan mereka pun tidak membuahkan hasil, tetapi malah menghasilkan masalah. Pemahaman kita terkait perdamaian sejatinya masih dalam tataran permukaan, yakni tidak adanya konflik dan perang.

Padahal perdamaian sejatinya itu luas. Perdamaian atau dialog menuju perdamaian sejatinya bukan seremonial belaka di antara tataran elite melainkan melibatkan semua pihak terlebih pihak-pihak yang dirugikan.

Dialog yang dibangun dalam rangka menciptakan perdamaian, namun hanya di kalangan elite sejatinya merupakan perdamaian imperealis, yakni perdamaian yang melanggengkan kekerasan. Perdamaian hanya terjadi ditingkat para petinggi hanya seremonial seperti berfoto-foto. Perdamaian yang dibangun oleh aktor-aktor tertentu yang senyatanya aktor-aktor itulah dalang dari segala konflik dan perang.

Pasalnya ada banyak kasus beberapa aktor menggunakan cara-cara kekerasan demi tercapainya ketertiban dan keamanan. Oleh karena itu, Johan Galtung salah satu bengawan studi perdamaian, mengatakan bahwa perdamaian itu harus tercipta secara kultural atau menyeluruh.

Perdamaian kultural atau Johan Galtung menyebutnya sebagai perdamaian positif, yakni perdamaian yang bukan hanya tidak adanya kekerasan, konflik, atau perang, tetapi juga tercapainya keadilan sosial. Artinya perdamaian itu adalah sikap, solidaritas, dan partisipasi bersama dari berbagai pihak. Menurut Johan Galtung, di tengah-tengah kehidupan dunia yang semakin mengglobal. Tuntutan etika pun juga ikut berkembang, bukan lagi etika individual yang berurusan dengan kemauan pribadi. Tetapi makro-etika yang menuntut tanggung jawab seluruh masyarakat dan semua bangsa. Perdamaian positif adalah perdamaian yang menempatkan keadilan di atas segalanya. Sehingga perdamaian mampu melindungi setiap hak-hak umat manusia.

Perdamaian yang kita harapkan selama ini tidak pernah terjadi, jangan-jangan kita sendiri tidak pernah mampu berbuat adil. Bahkan kelompok-kelompok marjinal atau terpinggirkan tidak pernah dilibatkan dalam setiap upaya perdamaian. Padahal kelompok itu juga memilik hak dalam merasakan keadilan.

Oleh karena itu, dialog yang dibangun dalam rangka menciptakan misi perdamaian sejatinya harus mengacu pada nilai-nilai kultural, seperti keadilan, solidaritas, dan partisipasi. Karena mungkin saja di satu tempat tidak ada konflik dan perang, namun masyarakatnya menderita? Artinya perdamaian bukan soal seremonial, namun soal hak atas keadilan sosial.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar: