terunik teraneh terselubung blogspot.com terlucu menarik di dunia tapi nyata dan terlangka aneh22 video gambar ajaib bin ajaib kau tuhan sungguh penuh kuasa unik77.tk unik4u unic77.tk gokil extreme medis kriminal arkeologi antariksa UFO dinosaurus kita flora fauna misteri bumi militer hiburan ekonomi bahasa teknologi sejarah politik tokoh hukum mumi rumor motivasi moral hewan tumbuhan tips trick kuliner otomotif pendidikan galleri musik sms hantu wallpaper artis indonesia foto hot syur panas download

>10.000 artikel menarik ada disini,silahkan cari:

Istana Respons soal Ancaman Tambahan Tarif 10% Trump Bagi Anggota BRICS - my blog

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Istana Respons soal Ancaman Tambahan Tarif 10% Trump Bagi Anggota BRICS
Jul 9th 2025, 14:27 by kumparanBISNIS

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi (kiri) bersama Ketua Komisi XIII DPR Willy Aditya di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (9/7/2025). Foto: Luthfi Humam/kumparan
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi (kiri) bersama Ketua Komisi XIII DPR Willy Aditya di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (9/7/2025). Foto: Luthfi Humam/kumparan

Pemerintah Indonesia menanggapi langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berencana menambahkan tarif sebesar 10 persen terhadap negara-negara anggota BRICS, termasuk Indonesia.

Tambahan tarif ini merupakan bentuk kebijakan resiprokal AS terhadap negara-negara yang dianggap mengancam kepentingan dagangnya.

Pihak Istana memastikan bahwa Indonesia tidak akan mundur dari keanggotaan BRICS, meskipun menghadapi konsekuensi berupa beban tarif baru dari AS.

"Enggak [mundur]. Jadi yang per hari ini dapat kami sampaikan adalah kita tetap melanjutkan upaya untuk bernegosiasi dengan pemerintah Amerika Serikat," kata Mensesneg Prasetyo Hadi di DPR, Jakarta Pusat, Rabu (10/7).

Menurutnya, Presiden Trump telah memberi tenggat waktu hingga 1 Agustus untuk menyikapi kebijakan tersebut. Dalam masa jeda ini, pemerintah terus mengupayakan jalur negosiasi.

Koordinasi antara pihak Istana dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian juga telah dilakukan pada Selasa malam.

"Kalau kaitannya dengan rencana pengenaan kembali tarif 10 persen bagi anggota BRICS, kami merasa itu bagian dari keputusan kita kalau kita bergabung dengan BRICS. Itu ada konsekuensi, mau tidak mau harus kita hadapi," ujar sumber tersebut.

Tambahan 10 persen tarif akan membuat beban tarif Indonesia ke AS meningkat menjadi 42 persen, dari sebelumnya 32 persen. Namun, pemerintah menegaskan bahwa hingga saat ini tarif tersebut belum resmi diterapkan.

Presiden AS Donald Trump bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kanan) di Ruang Biru Gedung Putih di Washington, DC, Senin (7/7/2025) waktu setempat. Foto: Andrew Caballero-Reynolds/AFP
Presiden AS Donald Trump bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kanan) di Ruang Biru Gedung Putih di Washington, DC, Senin (7/7/2025) waktu setempat. Foto: Andrew Caballero-Reynolds/AFP

"Kan baru disampaikan begitu, skemanya kan begitu. Nah ini kan masih ada waktu, masih ada jeda. Minta tolong aja kita, doakan tim yang sedang bernegosiasi supaya bisa menghasilkan yang terbaik lah untuk bangsa kita," ujarnya.

Terkait perkembangan negosiasi selama tiga bulan terakhir sejak tarif 32 persen diumumkan, pemerintah menyebut belum ada kebuntuan.

"Ya bukan deadlock, yang namanya bernegosiasi kan saling memberikan tawaran. Dari Pemerintah Indonesia juga sudah memberikan tawaran. Kalau itu belum diterima ya kita coba lagi negosiasi ulang," jelasnya.

Adapun usulan deregulasi dan peningkatan impor dari Amerika Serikat tetap menjadi bagian dari tawaran Indonesia dalam pembicaraan dagang.

Sementara itu, ketika ditanya soal syarat yang sempat disampaikan AS terkait pembebasan tarif jika Indonesia membangun pabrik di AS, pihak Istana menyebut hal itu belum dibahas lebih lanjut.

"Belum sampai ke sana, kita lihat nanti," katanya.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar: