terunik teraneh terselubung blogspot.com terlucu menarik di dunia tapi nyata dan terlangka aneh22 video gambar ajaib bin ajaib kau tuhan sungguh penuh kuasa unik77.tk unik4u unic77.tk gokil extreme medis kriminal arkeologi antariksa UFO dinosaurus kita flora fauna misteri bumi militer hiburan ekonomi bahasa teknologi sejarah politik tokoh hukum mumi rumor motivasi moral hewan tumbuhan tips trick kuliner otomotif pendidikan galleri musik sms hantu wallpaper artis indonesia foto hot syur panas download
>10.000 artikel menarik ada disini,silahkan cari:
Anak Pemulung di Bekasi Gagal Masuk SMPN, Dedi Mulyadi Sampai Ikut Intervensi - my blog
Keimita Ayuni Putri Aiman siswi SD yang gagal masuk SMP negeri karena beda domisili. Dok: Ist
Viral di media sosial narasi dari seorang anak pemulung yang tidak dapat melanjutkan sekolah tingkat SMP Negeri di wilayah Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi.
Siswi SD tersebut bernama Keimita Ayuni Putri Aiman.
"Saya pelajar di Bantargebang di Kota Bekasi, baru saja lulus sekolah dasar, dan saya bermimpi bisa melanjutkan SMP Negeri di Bantargebang, nilai saya juga bagus kok, hanya orang tua saya jadi pemulung di sini, dan apa yang aku alami sekarang, gagal masuk sekolah negeri," ujar Keimita dalam video yang viral di media sosial.
Keimita merupakan warga asal Kabupaten Bekasi.
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, menyebut siswi tersebut tidak dapat masuk sekolah di Kota Bekasi. Sebab, Keimita merupakan warga asal Kabupaten Bekasi.
"Kota Bekasi sudah melaksanakan online secara penuh, jadi sudah dibagi berdasarkan jalur yang ada. Ada jalur prestasi, zonasi, mutasi, dan afirmasi. Nah, anak tersebut (Keimita) di dalam videonya jelas bahwa dia masuk melalui jalur prestasi," ujar Tri Adhianto, Rabu (9/7).
Meski memiliki nilai rapor yang bagus, namun Keimita tidak masuk ke dalam sistem, sebab berbeda dengan domisili tujuan sekolah.
"Pada saat dia masuk lewat jalur prestasi tentu dia otomatis akan ditolak oleh sistem. Karena apa? Karena yang bersangkutan bukan tinggal di Kota Bekasi," kata dia.
Intervensi Dedi Mulyadi
Dedi Mulyadi usai menyaksikan laga perdana antara Persib Bandung melawan Port FC (Thailand), Minggu (6/7/2025). Dok: Humas Pemprov Jabar
Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM), menghubungi Tri setelah video siswi itu viral di media sosial.
KDM meminta agar siswi tersebut bisa bersekolah di Kota Bekasi. Namun, Tri menjelaskan bahwa sistem penerimaan siswa di Kota Bekasi sudah berbasis online sesuai domisili, sehingga otomatis akan tertolak.
Diterima di SMP Negeri 2 Setu
Atas arahan Dedi, Tri kemudian berkoordinasi dengan Bupati Bekasi, Ade Kuswara Kunang. Hasilnya, siswi itu bisa diterima di SMP Negeri 2 Setu lewat jalur zonasi.
"Saya berkoordinasi dengan Bupati, kemudian bergerak cepat, ternyata dia (Keimita) bisa masuk jalur zonasi melalui SMPN 2 Setu, jadi artinya bahwa yang bersangkutan sudah sesuai dengan jalurnya," ucap Tri.
Keimita Selalu Ranking 1
Atimah, 40 tahun, ibu dari Keimita, warga Kampung Serang, Setu, Kabupaten Bekasi, dijumpai wartawan, Selasa, 8 Juli 2025. Foto: Dok. kumparan
Orang tua Keimita, Atimah (40 tahun), mengungkapkan kronologi hingga peristiwa ini viral di media sosial.
Keimita merupakan siswi yang bersekolah di SDN Sumur Batu 01, Kota Bekasi. Sejak kelas 1 hingga 6 SD, Keimita selalu ranking 1.
"Nilai rata-ratanya itu 90, dia peringkat 1 sampai kelas 6 ranking 1 terus," kata Atimah di rumahnya di Kampung Serang, Setu, Kabupaten Bekasi.
Guru Salah Beri Info
Atimah menjelaskan, ia mendapat informasi dari seorang guru di tempat SD Keimita mengenai alur pendaftaran masuk SMP.
Ia memang ingin mendaftarkan anaknya melalui jalur prestasi, namun usulan ini tidak diterima di sekolah yang ia tuju di Kota Bekasi. Sehingga Atimah mengajukan pakai jalur domisili, namun lagi-lagi ditolak.
"Sekarang gini, pakai jalur prestasi tidak masuk bagaimana jalur domisili sementara wilayah kami aja udah beda," ucap dia.
Kesalahpahaman dan miss komunikasi dari guru di sekolah SD tempat Keimita ini diduga menyebabkan pendaftaran sekolah menjadi tidak berjalan dengan baik.
"Kalau memang dari awal tidak ada kebijakan dari guru, tidak bisa daftar di Kota Bekasi itu tidak masalah. Kalau dari awal udah terus terang, itu kan kami juga tidak bakalan mempertanyakan tapi ini di awal tidak pernah dikasih tahu," ucap dia.
Ilustrasi siswi SMA. Foto: Shutterstock
Atimah mengaku, bahwa dirinya merupakan orang awam, keseharian dirinya juga hanya menjaga warung kelontong kecil miliknya.
"Sistem ini menurut saya merugikan apalagi saya orang awam tidak tahu kebijakan," tuturnya.
Terkait, ayah dari Keimita sebagai pemulung, Atimah pun membenarkan hal tersebut.
"Iya benar bapaknya pemulung. fakta apa adanya, saya di sini keadaannya saya tidak ada bohong," kata Atimah.
Kendati demikian, Keimita anak kedua dari tiga bersaudara itu, kini telah mendaftar untuk masuk di SMPN 2 Setu, Kabupaten Bekasi.
"Sudah di SMPN 2 Setu, jaraknya kurang lebih hampir dua kilometer (dari rumah)," tutur dia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar