terunik teraneh terselubung blogspot.com terlucu menarik di dunia tapi nyata dan terlangka aneh22 video gambar ajaib bin ajaib kau tuhan sungguh penuh kuasa unik77.tk unik4u unic77.tk gokil extreme medis kriminal arkeologi antariksa UFO dinosaurus kita flora fauna misteri bumi militer hiburan ekonomi bahasa teknologi sejarah politik tokoh hukum mumi rumor motivasi moral hewan tumbuhan tips trick kuliner otomotif pendidikan galleri musik sms hantu wallpaper artis indonesia foto hot syur panas download
>10.000 artikel menarik ada disini,silahkan cari:
IKAPI Akui Penjualan Buku Fisik Terus Merosot Sejak Pandemi - my blog
Wisata Buku di Pasar Kenari, Jakarta, Jumat (30/5/2025). Foto: Muhammad Fhandra Hardiyon/kumparan
Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Arys Hilman Nugraha, menyatakan bahwa industri penerbitan buku di Indonesia saat ini sedang berada dalam kondisi yang memprihatinkan.
Menurut Arys, disrupsi teknologi serta menurunnya minat baca masyarakat akibat pergeseran konsumsi ke media sosial dan platform video berdampak signifikan pada penurunan penjualan buku dan berkurangnya jumlah penerbit aktif.
"Ekosistemnya sedang sakit, tapi perhatian pemerintah masih sangat minim. Tindakannya kurang," ujar Arys saat dihubungi kumparan, Jumat (30/5).
Ia menjelaskan bahwa penjualan buku fisik mengalami penurunan tajam sejak lima tahun terakhir, terutama sejak pandemi. Sayangnya, pertumbuhan penjualan buku digital belum cukup kuat untuk menutupi penurunan tersebut.
Kontribusi Digital Minim
Kontribusi buku digital di Indonesia saat ini baru sekitar 10 persen dari total pasar, jauh dari cukup untuk mengompensasi penurunan buku cetak.
"Disrupsinya bukan datang dari dunia buku, tapi dari perubahan kebiasaan masyarakat yang lebih banyak menghabiskan waktu di YouTube, TikTok, dan media sosial lainnya," jelasnya.
Arys juga menyoroti berkurangnya jumlah penerbit aktif. Dari 2.721 penerbit yang terdaftar hingga Desember 2024, hanya 992 yang masih aktif. Sisanya, menurut Arys, kemungkinan besar hanya menjual stok lama dan tidak lagi menerbitkan buku baru.
Penurunan juga terlihat dari cetakan awal setiap judul buku. Sebelum pandemi, satu judul bisa dicetak hingga 3.000 eksemplar. Kini, banyak penerbit hanya mampu mencetak 1.000 eksemplar, bahkan hanya 300 eksemplar.
Toko Buku di kawasan Kwitang, Jakarta, Jumat (30/5/2025). Foto: Muhammad Fhandra Hardiyon/kumparan
Tantangan lain yang mengancam kelangsungan industri buku adalah maraknya pembajakan, khususnya buku digital. Arys menegaskan bahwa pembajakan sangat merugikan penerbit, terutama penerbit kecil yang memiliki keterbatasan modal.
"Pembajak tidak bayar royalti, tidak keluar biaya promosi, tidak menanggung risiko penerbitan. Sementara penerbit resmi harus menanggung semuanya. Kalau ini terus dibiarkan, penerbit bisa tumbang," kata Arys.
Melihat kondisi ini, Ikapi mendorong pemerintah untuk lebih aktif dalam membangun budaya baca, melindungi penerbit, dan memberikan insentif fiskal bagi pelaku industri perbukuan.
"Kalau ada pameran buku yang kesulitan, harus dibantu. Di negara lain pun, pemerintahnya mendukung penuh pameran buku. Jangan dibiarkan," tegasnya.
Arys juga mengusulkan sejumlah bentuk insentif fiskal, seperti pengurangan pajak penghasilan bagi penulis dan royalti, insentif untuk bahan baku seperti kertas, serta dukungan untuk penyelenggaraan pameran buku.
Ia mengingatkan, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menciptakan ekosistem perbukuan yang sehat.
"Majunya sebuah bangsa selalu berjalan seiring dengan tingginya tingkat literasi masyarakatnya. Kalau industri buku dibiarkan terus terpuruk, jangan harap kita bisa bersaing," kata Arys.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar