terunik teraneh terselubung blogspot.com terlucu menarik di dunia tapi nyata dan terlangka aneh22 video gambar ajaib bin ajaib kau tuhan sungguh penuh kuasa unik77.tk unik4u unic77.tk gokil extreme medis kriminal arkeologi antariksa UFO dinosaurus kita flora fauna misteri bumi militer hiburan ekonomi bahasa teknologi sejarah politik tokoh hukum mumi rumor motivasi moral hewan tumbuhan tips trick kuliner otomotif pendidikan galleri musik sms hantu wallpaper artis indonesia foto hot syur panas download

>10.000 artikel menarik ada disini,silahkan cari:

Bahlil Minta Pertamina Wajib Impor BBM dan LPG dari AS: Tak Ada Alasan - my blog

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Bahlil Minta Pertamina Wajib Impor BBM dan LPG dari AS: Tak Ada Alasan
May 23rd 2025, 14:55 by kumparanBISNIS

Bahlil Lahadalia dalam acara acara IPA Convex di ICE BSD City, Tangerang, Banten, Rabu (21/5/2025). Foto: YouTube/Sekretariat Presiden
Bahlil Lahadalia dalam acara acara IPA Convex di ICE BSD City, Tangerang, Banten, Rabu (21/5/2025). Foto: YouTube/Sekretariat Presiden

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan PT Pertamina (Persero) tetap harus mengimpor BBM dan LPG dari Amerika Serikat (AS) meskipun ada risiko dan tantangan.

Pertamina menyebutkan ada sejumlah risiko dan tantangan teknis dalam mengimpor komoditas energi dari AS, misalnya jarak pengiriman yang terlampau jauh sehingga memakan waktu 40 hari dibandingkan impor dari Timur Tengah atau Asia.

Enggak ada alasan. LPG kita juga kan kita impor dari Amerika," tegas Bahlil saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jumat (23/5).

Bahlil mengatakan, meskipun butuh waktu lama untuk logistik, selama ini Indonesia sudah lama mengimpor komoditas energi dari AS, misalnya setengah dari impor LPG dipasok dari AS.

"Total LPG kita konsumsi nasional, dari total impor LPG nasional, 50 persen lebih itu kan dari Amerika. Jadi enggak ada soal," tuturnya.

Sebelumnya, Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menyoroti arahan pemerintah terkait impor BBM dan LPG dari AS sebagai bagian dari strategi diversifikasi sumber energi nasional, sekaligus bahan negosiasi tarif impor resiprokal.

Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menyampaikan paparan pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (11/3/2025). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO
Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menyampaikan paparan pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (11/3/2025). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

Simon mengatakan, Pertamina telah menjalin kerja sama rutin dengan mitra AS, khususnya untuk pasokan minyak mentah yang saat ini sekitar 4 persen dari total impor. Serta LPG yang mencapai 57 persen dari total impor dengan nilai transaksi sekitar USD 3 miliar per tahun.

Namun, Simon menyebut, pemerintah meminta Pertamina mengkaji ulang portofolio impor dengan kemungkinan peningkatan porsi dari Amerika Serikat melalui pengalihan dari negara lain, bukan penambahan volume impor.

"Perlu kami sampaikan dan garis bawahi bahwa pengalihan ini bersifat shifting sumber pasokan bukan penambahan volume impor. Kami tetap berkomitmen menjaga efisiensi volume import dan memastikan ketahanan energi nasional tetap menjadi prioritas utama," tegasnya saat Rapat dengan Komisi VI DPR, Kamis (22/5).

Simon juga mengatakan, saat ini Pertamina sedang menjajaki ketersediaan pasokan dari Amerika Serikat yang memenuhi aspek kualitas, volume, dan harga yang kompetitif.

Namun, ada sejumlah tantangan teknis dan risiko yang harus diperhatikan, seperti jarak pengiriman yang jauh sekitar 40 hari dibandingkan dengan sumber pasokan dari Timur Tengah atau negara Asia.

PIS siagakan kapal untuk pastikan ketersediaan BBM sepanjang lebaran. Foto: PIS
PIS siagakan kapal untuk pastikan ketersediaan BBM sepanjang lebaran. Foto: PIS

"Apabila terjadi kendala faktor cuaca seperti badai ataupun kabut, mereka akan berdampak langsung pada ketahanan stok nasional. Karena itu, Pertamina saat ini sedang melakukan kajian komprehensif mencakup aspek teknis, komersial, dan risiko operasional untuk memastikan bahwa skenario peningkatan suplai dari Amerika Serikat dapat dilakukan secara efektif," jelas Simon.

Simon juga meminta adanya dukungan kebijakan dari pemerintah berupa payung hukum dalam bentuk Peraturan Presiden maupun Peraturan Menteri yang menjadi dasar pelaksanaan kerja sama suplai energi.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar: