terunik teraneh terselubung blogspot.com terlucu menarik di dunia tapi nyata dan terlangka aneh22 video gambar ajaib bin ajaib kau tuhan sungguh penuh kuasa unik77.tk unik4u unic77.tk gokil extreme medis kriminal arkeologi antariksa UFO dinosaurus kita flora fauna misteri bumi militer hiburan ekonomi bahasa teknologi sejarah politik tokoh hukum mumi rumor motivasi moral hewan tumbuhan tips trick kuliner otomotif pendidikan galleri musik sms hantu wallpaper artis indonesia foto hot syur panas download

>10.000 artikel menarik ada disini,silahkan cari:

Mau Pasang Starlink? Cek Kelebihan - Kekurangan Internet Satelit - my blog

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Mau Pasang Starlink? Cek Kelebihan - Kekurangan Internet Satelit
May 16th 2024, 10:33, by Habib Allbi Ferdian, kumparanTECH

Ilustrasi Starlink Foto: Hadrian/Shutterstock
Ilustrasi Starlink Foto: Hadrian/Shutterstock

Layanan internet satelit Starlink sudah tersedia di Indonesia, dan beberapa pengguna bahkan sudah ada yang memakainya. Sebelum tergiur dengan layanannya, kamu yang tinggal di perkotaan sebaiknya mempertimbangkan dulu kelebihan dan kekurangan dari layanan internet berbasis satelit macam Starlink.

Internet satelit dapat menyediakan koneksi broadband yang didukung oleh satelit di luar angkasa, biasanya mengorbit di low earth orbit atau high earth orbit. Satelit akan mengirim dan menerima sinyal yang dirutekan ke penyedia layanan internet, dalam hal ini Starlink, dan kemudian ke antena serta modem internet pelanggan.

Internet satelit memang bisa menawarkan kecepatan yang sangat tinggi, tapi kemampuan tersebut mungkin tidak akan bertahan lama. Ada banyak faktor yang membuat akses koneksinya terganggu. Detailnya bisa kamu simak di bawah ini.

Internet ngebut tapi rawan alami gangguan

Internet berbasis satelit memiliki kecepatan download dan upload yang tinggi, dengan latensi rendah. Uji coba yang dilakukan seorang pengguna Starlink di Bandung menunjukkan kecepatannya bisa tembus hingga 200 Mbps.

Meski begitu, Ridwan Effendy, selaku Dosen Prodi Telekomunikasi Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung (STEI ITB), mengingatkan bahwa Starlink baru dipakai oleh beberapa orang saja. Kemampuan tersebut akan berkurang seiring bertambahnya pelanggan, karena jaringannya sangat dipengaruhi oleh tingkat kepadatan pengguna di suatu area.

Koneksinya pun berpengaruh terhadap kondisi cuaca. Internet satelit begitu rentan jika cuaca buruk melanda. Hujan lebat atau badai, misalnya, sinyalnya mungkin akan melemah dan menyebabkan latensi semakin tinggi, akibatnya kecepatan internet yang didapat tidak lagi sekencang saat awal kedatangan Starlink.

Situasi tersebut tidak akan terjadi dengan internet kabel serat optik. Internet fixed broadband kecil kemungkinan terdampak oleh cuaca buruk karena infrastrukturnya terkubur di dalam tanah.

Lebih cocok di daerah 3T dan tengah laut

Kelebihan internet satelit adalah jangkauan layanan yang sangat luas. Itu mengapa dia cocok dimanfaatkan untuk pengguna yang berada di wilayah 3T (terdepan, terpencil, dan tertinggal) atau perusahaan yang beroperasi di tengah laut.

Alih-alih untuk daerah perkotaan, internet Starlink lebih baik dan optimal bila digunakan di wilayah pelosok yang secara geografis sulit dijangkau oleh infrastruktur telekomunikasi kabel serat optik.

Ridwan menyarankan agar mereka yang tinggal di perkotaan, lebih baik menggunakan layanan broadband atau seluler. Layanan berbasis kabel dinilai lebih stabil, harga yang ditawarkan juga lebih murah.

Ilustrasi Starlink Foto: EWY Media/Shutterstock
Ilustrasi Starlink Foto: EWY Media/Shutterstock

"Perlu diperhatikan, sistem komunikasi satelit berbeda dengan fiber optic maupun seluler. Starlink ini bagus untuk rural, pedalaman, bahkan laut. Dia nanti agak sulit untuk memenuhi kebutuhan buat di kota. Menurut saya, sistem komunikasi satelit enggak bisa menandingi broadband dan seluler." ujar Ridwan.

Perangkat dan harga internet satelit lebih tinggi

Internet berbasis kabel umumnya tidak mewajibkan pengguna untuk membeli perangkat jaringan di awal. Perangkat macam router dan modem WiFi yang umum didapat pelanggan fixed broadband berstatus sewa, dan itu sudah ke dalam biaya langganan bulanan.

Berbeda dengan internet satelit seperti Starlink yang mewajibkan pelanggan untuk membeli perangkat yang terdiri dari antena, base (dudukan) antena, router, hingga kabel. Harganya pun dibanderol mulai dari Rp 7,8 juta hingga Rp 43,7 jutaan, dan ini belum termasuk biaya langganan bulan pertama.

Harga yang cukup tinggi, mengingat rata-rata tarif internet rumahan yang mampu dibayar rumah tangga Indonesia adalah Rp 100 ribu sampai Rp 300 ribu, menurut survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) periode 2023. Bahkan, sekarang ada yang tarif internet rumahan yang lebih murah di kisaran Rp 150 ribu.

Para pengguna yang hendak memakai Starlink juga perlu mempertimbangkan faktor instalasi yang harus dikerjakan secara mandiri, meski pemasangannya terbilang mudah. Ditambah, layanan konsumen masih sebatas online, belum ada layanan purnajual offline.

Hal ini dialami oleh Mohamad Wildanus Solihin, Wakil Kepala Bidang Akademik, SMP Islam Syifaul Qulub di Jawa Timur. SMP Islam Syifaul Qulub yang berada di Desa Klotok, Kecamatan Balongpanggang, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, menjadi sekolah pelosok pertama yang menggunakan Starlink sebagai jaringan internetnya.

Sebelum bisa menikmati jaringan internet Starlink, Wildan mengatakan pihaknya harus memasang dan menginstal perangkat terlebih dahulu. Pemasangan perangkat terbilang cukup mudah, tapi saat antena diletakkan di halaman sekolah, kecepatan internet hanya berkisar 70 Mbps saja.

"Real-nya Starlink memang di kita masuk 70 Mbps. Kalau di medsos itu kan ada review bisa sampai 200 Mbps, tapi kita masih belum menemukan kecepatan sampai segitu. Entah itu tergantung waktu atau seperti apa, kita belum tahu," kata Wildan.

Hal yang sama dialami oleh Ramda Yanurzha, salah satu pengguna internet Starlink yang bertempat tinggal di Jakarta Selatan. Dalam thread-nya di X (Twitter), dia menulis, awalnya Ramda mencoba memasang perangkat di halaman rumahnya, namun aplikasi mendeteksi masih ada obstruction atau gangguan sehingga memengaruhi konektivitas.

"Setelah gagal setup di halaman, akhirnya coba setup di atap (rumah). Pake built in test di app-nya, konfirm no obstruction. Speed 60 - 80 Mbps download, 35 Mbps upload. Latency 28 Ms!" tulis Ramda di akun X.

Dalam uji coba terbaru, kecepatan internet Starlink yang dipasang di rumah Ramda mencapai 170 Mbps. Dia menyarankan agar perangkat diletakkan di area terbuka, tidak terhalang ranting pohon atau bangunan lain. Ini karena satelit membutuhkan field of view yang besar. Keadaan satelit yang terus bergerak di langit membuat antena harus terus melacak satelit berada.

Jadi dia memang syaratnya butuh ruang pandang yang cukup besar, 100 derajat kalau gak salah. Posisi antena jangan terhalang oleh ranting pohon, bangunan, atau objek lain. Nanti kan juga ada built in analisisnya, jadi keliatan daerah mana yang terhalang."- Ramda Yanurzha, pengguna internet Starlink -

Ramda berpendapat, layanan satelit Starlink ini tampaknya memang ditujukan untuk segmen masyarakat menengah ke atas mengingat perangkat dan biaya internet yang cukup mahal.

"Ini jelas bukan untuk segmen masyarakat umum. Terutama penghasilan menengah ke bawah. Karena kan alatnya saja Rp 8 juta untuk terminal satelitnya. Kemudian untuk langganan internetnya Rp 750 ribu per bulan. Ini kan harga yang bisa dibilang cuma untuk masyarakat yang mampu, sangat mampu bahkan," kata Ramda.

Ramda juga sepakat internet Starlink cocok untuk daerah terluar atau 3T, wilayah yang belum terjangkau oleh layanan internet fixed broadband atau seluler. Ini pula salah satu alasan Ramda membeli Starlink karena bisa digunakan saat dia pergi ke area terluar yang belum ada internet.

Meski begitu, bagi mereka yang tinggal di perkotaan terutama yang tidak bisa diakses oleh fiber optic, bisa juga menggunakan Starlink sebagai alternatif. Ramda bilang, semua itu akan tergantung pada kebutuhan individu masing-masing.

"Semuanya tergantung kebutuhan. Ada juga daerah di perkotaan yang memang karena satu dan lain hal tidak terjangkau akses internet kabel atau fiber optic. Jadi sebenarnya agak tergantung penggunaannya. Balik ke keadaan masing-masing daerah itu." kata Ramda.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar: