terunik teraneh terselubung blogspot.com terlucu menarik di dunia tapi nyata dan terlangka aneh22 video gambar ajaib bin ajaib kau tuhan sungguh penuh kuasa unik77.tk unik4u unic77.tk gokil extreme medis kriminal arkeologi antariksa UFO dinosaurus kita flora fauna misteri bumi militer hiburan ekonomi bahasa teknologi sejarah politik tokoh hukum mumi rumor motivasi moral hewan tumbuhan tips trick kuliner otomotif pendidikan galleri musik sms hantu wallpaper artis indonesia foto hot syur panas download

>10.000 artikel menarik ada disini,silahkan cari:

Ekonom Minta RI Diversifikasi Pasokan Minyak Antisipasi Konflik Geopolitik - my blog

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Ekonom Minta RI Diversifikasi Pasokan Minyak Antisipasi Konflik Geopolitik
Jun 28th 2025, 15:00 by kumparanBISNIS

Ilustrasi pengeboran minyak lepas pantai (offshore). Foto: AzmanMD/Shutterstock
Ilustrasi pengeboran minyak lepas pantai (offshore). Foto: AzmanMD/Shutterstock

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menjelaskan alasan negara-negara Barat seperti Amerika Serikat dan Eropa mengurangi ketergantungan pasokan minyak mentah dari Timur Tengah.

Kabar mengenai ancaman penutupan Selat Hormuz yang dilewati oleh 20 persen dan 30 persen ekspor minyak dan gas dunia.

"Mayoritas dikonsumsi oleh negara-negara Asia, terutama China, India, Jepang, Korea Selatan dan ASEAN," ujar Wijayanto kepada kumparan, Sabtu (28/6).

Menurutnya, tantangan utama yang dihadapi negara-negara konsumen minyak Timur Tengah adalah ketersediaan pasokan dan harga minyak.

Bagi Indonesia, kondisi ketahanan energi saat ini cukup rentan. Cadangan bahan bakar minyak (BBM) hanya cukup untuk 20 hari, jauh lebih sedikit dibandingkan Jepang dan Korea Selatan yang hampir mencapai satu tahun. Hambatan pasokan yang terjadi dalam waktu singkat dapat menghentikan laju ekonomi nasional.

"Dampaknya, hambatan supply sebentar saja, berpotensi membuat ekonomi berhenti bergerak. Dari sisi harga, setiap kenaikan USD 1 minyak per barel, membuat defisit APBN naik Rp 4-6 triliun. Jadi, dampak pertumbuhan ekonomi dan fiskal sangat kental," jelas Wijayanto.

Dia menegaskan, kedaulatan energi Indonesia masih sangat lemah. Oleh karena itu, pemerintah perlu melakukan tiga hal penting: meningkatkan cadangan BBM, melakukan diversifikasi sumber pasokan minyak, dan mendorong transisi energi dengan kecepatan penuh.

"Kedaulatan energi kita sangat lemah, pemerintah perlu melakukan 3 hal yakni meningkatkan cadangan BBM, melakukan diversifikasi supply minyak, dan mendorong transisi energi dengan kecepatan penuh," katanya.

Menurut Wijayanto, energi baru dan terbarukan (EBT) adalah masa depan menuju kedaulatan energi. Namun selama ini, upaya tersebut belum dijalankan dengan serius karena masih dianggap isu lingkungan semata.

"EBT adalah masa depan kita, menuju kedaulatan energi. Selama ini belum dikerjakan dengan serius karena hanya dianggap isu lingkungan saja; padahal sesungguhnya ini isu kedaulatan, isu pertumbuhan ekonomi, isu penciptaan pekerjaan, isu fiskal, selain tentunya juga isu lingkungan," tutur dia.

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda menyampaikan paparan saat Forum Wartawan Industri (Forwin) di Jakarta, Kamis (17/4/2025).  Foto: Widya Islamiati/kumparan
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda menyampaikan paparan saat Forum Wartawan Industri (Forwin) di Jakarta, Kamis (17/4/2025). Foto: Widya Islamiati/kumparan

Direktur Ekonomi Celios, Nailul Huda, memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz jalur utama seperempat perdagangan minyak global berpotensi mendorong harga minyak dunia menyentuh atau bahkan melampaui USD 100 per barel. Ketegangan geopolitik seperti konflik Israel-Iran sudah mulai memicu kenaikan harga tersebut.

Bagi Indonesia, sebagai negara pengimpor minyak, lonjakan harga akan berdampak besar. Biaya impor meningkat, subsidi BBM membengkak, dan APBN pun tertekan. Nailul menegaskan bahwa tanpa kenaikan harga jual BBM, beban fiskal akan terus bertambah.

Lebih lanjut, inflasi global akibat harga minyak tinggi bisa memicu resesi, yang berdampak pada penurunan perdagangan internasional dan permintaan produk Indonesia. Industri dalam negeri yang bergantung pada bahan baku dan teknologi impor juga terancam karena biaya dan risiko pengiriman meningkat.

Meski kenaikan harga minyak bisa menguntungkan ekspor komoditas Indonesia, Nailul menekankan bahwa nilai positif ini tidak sebanding dengan beban subsidi yang membengkak. Pemerintah perlu cermat membaca situasi geopolitik dan menyiapkan strategi mitigasi dampaknya.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar: