terunik teraneh terselubung blogspot.com terlucu menarik di dunia tapi nyata dan terlangka aneh22 video gambar ajaib bin ajaib kau tuhan sungguh penuh kuasa unik77.tk unik4u unic77.tk gokil extreme medis kriminal arkeologi antariksa UFO dinosaurus kita flora fauna misteri bumi militer hiburan ekonomi bahasa teknologi sejarah politik tokoh hukum mumi rumor motivasi moral hewan tumbuhan tips trick kuliner otomotif pendidikan galleri musik sms hantu wallpaper artis indonesia foto hot syur panas download
>10.000 artikel menarik ada disini,silahkan cari:
Kisah Acep Pedagang Nira: Jalan Kaki Bawa 20 Kg Jualan di Jakarta Demi Keluarga - my blog
May 18th 2025, 17:37, by Mirsan Simamora, kumparanNEWS
Acep Penjual Es Tuak Aren/Air Nira di Jalan Tentara Pelajar, Jakarta Selatan, Minggu (18/5/2025). Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan
Di tengah teriknya jalanan Ibu Kota, Acep, pedagang air nira tetap semangat memikul bambu yang berisi nira yang beratnya sekitar 20 kg itu. Ia melontarkan senyum ke mereka yang melintas di Jalan Tentara Pelajar, Jakarta dekat Gedung DPR/MPR, berharap ada yang tertarik membeli dagangannya.
Acep di sana sudah sejak pukul 09.00 WIB, ia setiap hari memikul bambu yang berisi 10 liter nira itu dari kontrakannya di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Ia berjualan dengan berjalan kaki.
"Kalau saya biasanya jam 9, nyampe tempat sekitar jam 10-an lah. Kita ini di sini, yang pasti jalur ini lah. Jalur Simprug sampai jalur PLN itu pasti ada, walaupun orangnya beda," ujar Acep saat ditemui kumparan, Minggu (18/5).
Acep sebatang kara di Jakarta, anak dan istrinya tinggal di Rangkas, Lebak, Banten. Demi mencari nafkah untuk keluarga, Acep tetap semangat menempuh jarak berpuluh kilometer setiap harinya.
Meski tak punya merek, Acep tetap yakin air niranya diminati orang. Siang itu, sudah ada calon pembeli yang memesan niranya. Ia tampak dengan cekatan menuang air nira itu ke gelas bening.
Siang itu Acep bersyukur ada yang membeli air niranya. Ia tampak dengan cekatan menuangkan air nira itu ke gelas bersih lalu ditambahkan dengan es. Air itu lalu diteguk dengan segar oleh pelanggannya.
kumparan sempat mencoba air niranya itu. Rasanya layak diacungi jempol.
Acep Penjual Es Tuak Aren/Air Nira di Jalan Tentara Pelajar, Jakarta Selatan, Minggu (18/5/2025). Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan
"Ya, lumayan manis. Tergantung kalau misalkan dia campur pakai es nih. Tapi kalau sekitarnya sekitar 15 menit, atau sampai 30 menit, ya kemungkinan itu udah siap lah, udah pas," jelas Acep sambil tersenyum.
Rahasia Bambu
Bambu besar yang ia pikul bukan sekadar tempat penyimpanan. Selain menjaga suhu air agar tetap dingin selama dua jam lebih, bambu juga menjadi identitas dagangannya.
"Kalau saya sih lebih ke es Aren ya? Tepat itu. Es Aren tepat banget. Tapi ada yang bilang es Bambu katanya. Karena kita bawa bambu. Kalau dibilang tuak, kenapa? Karena ini bahannya bahan tuak sebenarnya," ungkap Acep.
Menurutnya, air aren yang ia bawa adalah bahan baku dari tuak—minuman tradisional hasil fermentasi. Namun air yang dijual Acep belum sampai ke tahap fermentasi. Ia memastikan es yang ia jual adalah nira murni yang disaring dan dimasak kembali sebelum dijual, agar tak berubah rasa menjadi asam.
"Kalau misalkan yang masih murni, sekitar tiga hari. Empat hari, lima hari. Kan itu otomatis dia udah masuk fermentasi. Jadi dibilang setengah dari tuak lah. Tapi tetap kan rasanya beda," lanjutnya.
Warisan Orang Tua
Minuman ini bukan sembarang produk musiman. Ada cerita panjang di balik setiap tetes es aren yang Acep tuangkan.
"Ya mungkin bisa dibilang begitu. Warisan ya? Iya jadi dulu itu sebenernya sih mertua sih. Mertua punya bapak. Nah orang tua inilah, Kakek-kakek inilah yang dulu jualan kayak gini. Turunlah ke mertua saya. Yang biasa mangkal sini nih mertua saya nih," kenangnya.
Dulu mertuanya berdagang di kawasan Jembatan Semanggi sejak awal tahun 2000-an, tapi karena larangan berjualan di area tersebut, Acep pun meneruskan tradisi itu di tempat ia berdagang sekarang. Ia tidak sendiri. Ada beberapa pedagang lainnya yang berasal dari Rangkasbitung dan menyebar di titik-titik sepanjang jalan ini.
"Orang Rangkas semua yang dagang ini. Kalau dibilang asli Rangkas, saya juga kurang paham. Tapi, menurut saya sih ciri khas Sunda. Kayaknya sih Sunda kayaknya," kata Acep.
Ketika ditanya soal pendapatan dan penghidupan dari menjual es aren, Acep tak banyak mengeluh. Ia sadar betul bahwa minuman tradisional ini tidak sepopuler produk minuman kekinian yang banyak digandrungi anak muda.
"Kalau dibilang, cukup gak cukup sih, sekurang-kurangnya sih, tergantung kita ya cukup-cukup ya, kalau pengeluaran kita kan tergantung penghasilan," ujarnya.
Biasanya, ia membawa sekitar 6 hingga 8 liter nira per hari. Jika cuaca mendukung—panas terik tanpa hujan—Acep berani membawa hingga 10 liter. Satu liter bisa menghasilkan sekitar 15-18 gelas es jika dicampur es batu dan dibiarkan mencair merata.
Namun, jika mendung menyelimuti, atau hujan turun seperti beberapa hari terakhir, pendapatan pun bisa menyusut drastis.
"Es kayak gini tuh, kalau misalkan udah mau hujan Adem lah adem, Itu adem udah kurang. Adem aja udah kurang, enggak hujan lah. Apalagi hujan. Waduh, bisa dibilang minus iya," keluhnya sambil tertawa kecil.
Meskipun begitu, ia mengungkapkan bahwa dagangannya pernah laku hingga 30 gelas lebih.
"Paling rame ya abis, sekitar 30an gelas lah," ujarnya
Di tengah hiruk pikuk dan teriknya Jakarta, segelas air nira dari bambu milik Acep terasa seperti jeda nostalgia. Ia bukan hanya menjual minuman, tapi menyuguhkan warisan rasa dari masa lalu dalam setiap tegukan yang menyegarkan.
"Orang pembeli nggak bakal bisa dibohongi. Apalagi ini jajanan apa namanya? Zaman dulu lah," tutup Acep.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar