terunik teraneh terselubung blogspot.com terlucu menarik di dunia tapi nyata dan terlangka aneh22 video gambar ajaib bin ajaib kau tuhan sungguh penuh kuasa unik77.tk unik4u unic77.tk gokil extreme medis kriminal arkeologi antariksa UFO dinosaurus kita flora fauna misteri bumi militer hiburan ekonomi bahasa teknologi sejarah politik tokoh hukum mumi rumor motivasi moral hewan tumbuhan tips trick kuliner otomotif pendidikan galleri musik sms hantu wallpaper artis indonesia foto hot syur panas download

>10.000 artikel menarik ada disini,silahkan cari:

Dinkes: 7,8 Persen Siswa Usia 10-18 Tahun di Kota Yogya Jadi Perokok Aktif - my blog

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Dinkes: 7,8 Persen Siswa Usia 10-18 Tahun di Kota Yogya Jadi Perokok Aktif
Jan 21st 2025, 15:23, by Pandangan Jogja Com, Pandangan Jogja

Ilustrasi merokok. Foto: Panya_Anakotmankong/Shutterstock
Ilustrasi merokok. Foto: Panya_Anakotmankong/Shutterstock

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogya mengungkap sebanyak 7,8 persen siswa usia 10-18 tahun di Kota Yogya menjadi perokok aktif.

Data itu dihimpun pada 2024 dengan sampel sebanyak 3.149 siswa, di mana sebanyak 249 siswa dari sampel tersebut diketahui menjadi perokok aktif.

Kepala Seksi Promosi Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Yogyakarta, Arumi Wulansari, mengatakan bahwa rokok tak hanya berdampak pada kesehatan siswa, tapi juga mengganggu konsentrasi mereka dalam belajar.

"Rokok tidak hanya berdampak buruk pada kesehatan, tetapi juga mengganggu konsentrasi dan prestasi akademik siswa," ujar Arumi, Senin (20/1).

Pada 2025 ini, pemerintah menurutnya akan intensif memberikan sosialisasi bahaya rokok khususnya pada kalangan pelajar.

Peraturan Kawasan Tanpa Rokok (KTR), yang melarang aktivitas merokok termasuk oleh guru dan staf, diharapkan dapat diterapkan secara maksimal. Selain itu, Dinkes juga mendorong pemanfaatan program konseling Upaya Berhenti Merokok (UBM) yang tersedia di 18 puskesmas di Kota Yogyakarta.

Kepala Puskesmas Mantrijeron, Eny Purdianty, mendukung program UBM, meski mengakui implementasinya belum maksimal.

"Setiap puskesmas sudah ada petugas khusus untuk UBM ini. Tetapi sampai sekarang hampir tidak ada siswa yang mendaftar," katanya.

Eny menyarankan kerja sama lebih erat antara sekolah dan puskesmas untuk mendorong siswa perokok aktif berkonsultasi dan mendapat pendampingan.

"Mungkin bisa saja kerja sama dengan pihak sekolah dengan mewajibkan siswa yang merokok untuk berkunjung ke UBM puskesmas. Sehingga, siswa dapat berkonsultasi secara personal dan didampingi staf kami. Dengan harapan, para siswa dapat mengurangi konsumsi rokok hingga berhenti dari rokok," ungkapnya.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar: