terunik teraneh terselubung blogspot.com terlucu menarik di dunia tapi nyata dan terlangka aneh22 video gambar ajaib bin ajaib kau tuhan sungguh penuh kuasa unik77.tk unik4u unic77.tk gokil extreme medis kriminal arkeologi antariksa UFO dinosaurus kita flora fauna misteri bumi militer hiburan ekonomi bahasa teknologi sejarah politik tokoh hukum mumi rumor motivasi moral hewan tumbuhan tips trick kuliner otomotif pendidikan galleri musik sms hantu wallpaper artis indonesia foto hot syur panas download
>10.000 artikel menarik ada disini,silahkan cari:
Sastia Putri dari IP 'Nasakom' di ITB hingga Jadi Associate Professor di Jepang - my blog
Feb 24th 2025, 14:46, by Tiara Hasna R, kumparanNEWS
Sastia Prama Putri tak pernah membayangkan dirinya akan menekuni dunia akademik, apalagi menjadi Associate Professor di Jepang. Perjalanan itu berawal dari sebuah "protes" terhadap jurusan yang ia jalani di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Saat SMA, Sastia bercita-cita menjadi diplomat atau pengacara. Namun, sang ayah meminta agar ia memilih Biologi sebagai pilihan pertama di UMPTN.
Meski diterima di ITB, hasil itu malah membuatnya tak semangat di awal kuliah. Ia jarang masuk kelas, lebih sering bolak-balik Jakarta-Bandung, hingga akhirnya mendapatkan IP yang begitu kecil di semester pertama kuliah di ITB.
"Aku di ITB, aku nasakom, nasib (IP) satu koma itu, dan luar biasa wake up call sebetulnya, karena sebenarnya bukan karena aku academically challenge, sampai saat itu struggle," kata Sastia dalam podcast DipTalk bersama kumparan.
"Sebetulnya aku bukan kesulitan akademik, tapi aku sabotase diri sendiri. Aku nggak pernah ke kampus, karena enggak rela masuk Biologi," cerita Sastia.
Surat peringatan dari rektorat menjadi titik balik. Sang ayah, alih-alih memarahi, hanya berkata, "I don't raise quitters."
Kata-kata itu melekat dalam pikirannya. Setelah itu ia mulai serius, mengambil semester pendek untuk memperbaiki nilai, dan sejak tingkat dua berhasil mempertahankan IP di kisaran 3,8 hingga 4.
Ilustrasi Institut Teknologi Bandung. Foto: Dok. ITB
Lulus dari ITB, Sastia mendapat kesempatan mengikuti program pelatihan sains selama setahun di Jepang. Dari sana, ia mendapatkan beasiswa penuh untuk melanjutkan S2 dan S3.
Saat hampir menyelesaikan studi doktoralnya, ia menghadapi tantangan baru: menjadi ibu. Rencana untuk melanjutkan postdoc ke Amerika atau Inggris ia tunda, dan memilih mencari pekerjaan di Jepang.
"Saat itu, aku butuh pekerjaan untuk bisa tetap tinggal di Jepang. Alhamdulillah, ada profesor yang baik hati menawarkan pekerjaan," katanya.
Dari situ, kariernya berkembang hingga menjadi Associate Professor di Osaka University.
Menurutnya, perjalanan akademik di Jepang tidaklah mudah, terutama sebagai perempuan di bidang teknik yang masih didominasi laki-laki.
"Tantangannya luar biasa. Jepang masih cukup patriarkis, dan perempuan di akademisi jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding di Indonesia," jelasnya.
Sastia Prama Putri (kanan), ilmuwan Indonesia dan non-Jepang pertama penerima Ando Momofuku Award berpose dengan Mantan Perdana Menteri Jepang Junichiro Koizumi. Foto: ANTARA/HO-Sasti Prama.Putri
Namun, dengan ketekunan dan jaringan mentor yang kuat, Sastia berhasil menembus batasan itu.
Dari seorang mahasiswa yang sempat "tersandung" di awal kuliah, kini ia menjadi salah satu ilmuwan berprestasi yang berkarier di kancah global.
Baru-baru ini Sastia menjadi peneliti non-Jepang pertama yang menerima Ando Momofuku Award, lewat risetnya menemukan senyawa aktif dalam tempe yang bisa menurunkan kolesterol.
Ia juga pernah memimpin riset bersama Jepang-Amerika Serikat dan menyabet sejumlah penghargaan bergengsi lainnya dalam perjalanan dua dekade menjadi peneliti di Jepang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar