terunik teraneh terselubung blogspot.com terlucu menarik di dunia tapi nyata dan terlangka aneh22 video gambar ajaib bin ajaib kau tuhan sungguh penuh kuasa unik77.tk unik4u unic77.tk gokil extreme medis kriminal arkeologi antariksa UFO dinosaurus kita flora fauna misteri bumi militer hiburan ekonomi bahasa teknologi sejarah politik tokoh hukum mumi rumor motivasi moral hewan tumbuhan tips trick kuliner otomotif pendidikan galleri musik sms hantu wallpaper artis indonesia foto hot syur panas download
>10.000 artikel menarik ada disini,silahkan cari:
Rapat Bareng Kemenag di Makkah, Timwas DPR Soroti Pelayanan Haji RI Grade D - my blog
Wakil Ketua DPR sekaligus anggota Timwas Haji DPR, Adies Kadir. Foto: Dok. Timwas Haji DPR
Timwas haji DPR menggelar rapat bersama Kementerian Agama dan PPIH Arab Saudi membahas berbagai pelayanan terhadap jemaah haji. Salah satu yang dibahas yakni pelayanan secara umum terhadap jemaah haji yang dinilai masih perlu peningkatan.
Anggota Timwas Haji sekaligus Wakil Ketua DPR RI Adies Kadir menilai pelayanan terhadap jemaah haji reguler seharusnya mendekati atau setara dengan jemaah haji khusus. Namun, saat ini belum terlihat kualitas yang diharapkan.
"Ada satu hal memang yang cukup membuat kita miris. Ternyata fasilitas haji itu dibagi dalam grade A, B, C, dan D. Dan yang cukup membuat kami agak terpukul, disampaikan bahwa jemaah haji Indonesia adalah yang paling murah dan masuk dalam grade D," kata Adies dalam rapat bersama Timwas Haji dengan Menteri Agama di Makkah, Arab Saudi, Senin (2/6).
Jemaah calon haji Indonesia turun dari bus Shalawat di terminal Jabal Kakbah di dekat Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Rabu (21/5/2025). Foto: Andika Wahyu/ANTARA FOTO
Timwas haji DPR telah menemui syarikah yang memberikan pelayanan terhadap jemaah Indonesia. Dari pengakuan syarikah itulah didapatkan fakta terkait kualitas layanan terhadap jemaah haji.
"Kita ini mampu ke grade B. Jemaah reguler itu bisa mendapatkan fasilitas seperti jemaah ONH Plus, seperti bed sofa, sofa bed. Mestinya bisa. Dan mungkin kalau pengelola haji nanti bisa hitung lebih baik, kemungkinan cost haji itu masih bisa diturunkan tapi fasilitas tetap ditingkatkan," tegasnya.
Anggota Timwas Haji DPR RI Ansory Siregar yang juga Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PKS saat sidak ke dapur salah satu penyedia makanan untuk jemaah haji Indonesia, Makkah, Arab Saudi, Senin (1/6/2025). Foto: Dok. Timwas Haji DPR
Politikus Golkar itu menegaskan, dengan anggaran dan kemampuan pengelolaan keuangan haji yang dimiliki, seharusnya Indonesia bisa menempatkan jemaahnya pada layanan grade B atau bahkan lebih baik.
Adies menekankan bahwa hal ini harus menjadi catatan penting bagi evaluasi ke depan, khususnya bagi Badan Penyelenggara Haji (BPH) yang akan menangani penyelenggaraan haji dan umrah. Ia meminta agar peningkatan kualitas layanan menjadi fokus utama, bukan sekadar efisiensi anggaran semata.
"Tahun ini kita agak toleransi sedikit karena ini baru pertama kali. Tapi ke depan ini PR besar kita. Yang penting bukan cari kesalahan, tapi bagaimana jemaah reguler yang jumlahnya 221.639 orang ini bisa mendapatkan fasilitas yang nyaman selama ibadah haji, apalagi di puncak ibadah di Armuzna yang paling berat," ujar Adies.
Petugas membantu mendorong kursi roda yang dinaiki seorang calon haji Indonesia kloter JKG 01 dari Madinah sesampainya di Hotel Al Ghader, Syisyah, Makkah, Arab Saudi, Sabtu (10/5/2025). Foto: Andika Wahyu/ANTARA FOTO
Adies menyebut, saat memantau langsung kondisi di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, ia merasakan langsung suhu ekstrem yang bisa berdampak pada kesehatan jemaah. Ia meminta agar semua perubahan teknis pelayanan yang telah disepakati tetap menjamin kenyamanan dan tidak menambah beban jemaah.
"Kami minta Dirjen Haji memastikan bahwa jemaah kita mendapatkan pelayanan yang membuat mereka nyaman, bisa ibadah dengan baik, dan tidak stres," ujarnya.
Jemaah calon haji Indonesia kloter JKG 01 dari Madinah menelepon keluarganya di tanah air sesampainya di Hotel Al Ghader, Syisyah, Makkah, Arab Saudi, Sabtu (10/5/2025). Foto: Andika Wahyu/ANTARA FOTO
Selain soal akomodasi dan suhu panas ekstrem, Adies juga menyoroti persoalan distribusi makanan dan layanan kesehatan. Ia mengungkap ada laporan bahwa tenaga kesehatan Indonesia sempat mengalami kendala operasional akibat perizinan yang belum tuntas dari otoritas setempat.
"Ada laporan bahwa petugas medis kita seperti diuber-uber polisi lokal karena tidak punya izin. Yang ingin dirawat pun terpaksa sembunyi-sembunyi dari gang ke gang. Ini tentu harus jadi perhatian agar tidak terulang," katanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar