terunik teraneh terselubung blogspot.com terlucu menarik di dunia tapi nyata dan terlangka aneh22 video gambar ajaib bin ajaib kau tuhan sungguh penuh kuasa unik77.tk unik4u unic77.tk gokil extreme medis kriminal arkeologi antariksa UFO dinosaurus kita flora fauna misteri bumi militer hiburan ekonomi bahasa teknologi sejarah politik tokoh hukum mumi rumor motivasi moral hewan tumbuhan tips trick kuliner otomotif pendidikan galleri musik sms hantu wallpaper artis indonesia foto hot syur panas download

>10.000 artikel menarik ada disini,silahkan cari:

Memahami Arti Beauty is Pain, Fenomena Umum di Kalangan Perempuan - my blog

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Memahami Arti Beauty is Pain, Fenomena Umum di Kalangan Perempuan
Jan 24th 2025, 12:00, by Adelia Sufri, kumparanWOMAN

Ilustrasi Beauty Is Pain. Foto: Shutterstock/Andrey_Popov
Ilustrasi Beauty Is Pain. Foto: Shutterstock/Andrey_Popov

Terdapat sebuah ungkapan populer di kalangan perempuan untuk menggambarkan proses yang harus dilalui jika ingin cantik, yakni beauty is pain. Untuk memahami arti beauty is pain, kamu tidak bisa mengandalkan terjemahan secara literal saja, Ladies.

Sebab jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia, ungkapan tersebut berarti "cantik itu sakit". Tapi sakit seperti apa yang dimaksud? Mengapa kecantikan dikaitkan dengan rasa sakit?

Ungkapan itu berhubungan dengan usaha perempuan yang selalu ingin terlihat cantik. Kaum hawa bahkan tak keberatan menghabiskan uang dan energi untuk mendapatkan kecantikan yang mereka dambakan. Yuk, pahami konsep beauty is pain dengan menyimak artikel ini hingga tuntas.

Memahami Arti Beauty is Pain

Ilustrasi perempuan yang perawatan agar cantik. Foto: Lyubov Levitskaya/Shutterstock
Ilustrasi perempuan yang perawatan agar cantik. Foto: Lyubov Levitskaya/Shutterstock

Tidak dapat dimungkiri bahwa perempuan menghabiskan lebih banyak waktu, tenaga, dan uang untuk mengubah penampilan mereka dibandingkan pria. Ini mengindikasikan bahwa perempuan sangat peduli dengan penampilannya.

Merujuk Psychology Today, keinginan perempuan untuk selalu terlihat cantik bisa dijelaskan dengan menelusuri masa lalu atau jejak evolusi. Di zaman dulu, perempuan bersaing memperebutkan pria yang paling populer dengan menggunakan daya tarik fisiknya.

Tentunya, aksi para perempuan itu tak dilakukan tanpa perhitungan. Mereka tahu bahwa pria memang menganggap penting penampilan perempuan, sehingga akan memilih perempuan yang paling menarik di matanya.

Hal ini semakin dikuatkan dengan banyaknya standar kecantikan hasil konstruksi masyarakat yang berkaitan dengan seksualitas. Kecantikan diidentikkan dengan pinggang kecil, payudara yang besar, wajah yang mungil, serta tangan dan kaki yang ramping.

Nah, untuk mencapai standar kecantikan itu, sebagian perempuan rela menempuh jalan yang menyakitkan. Misalnya, diet ekstrem agar bentuk tubuhnya ramping, atau melakukan berbagai perawatan wajah yang mahal dan menyakitkan agar terlihat menarik.

Itulah mengapa muncul istilah beauty is pain atau cantik itu sakit. Sebab, beberapa perempuan mendapatkan tampilan yang cantik setelah melakukan serangkaian upaya yang melelahkan dan menyakitkan.

Dampak Standar Kecantikan terhadap Kesehatan Mental

ilustrasi kesehatan mental perempuan terganggu karena ingin memenuhi standar kecantikan. Foto: Shutterstock
ilustrasi kesehatan mental perempuan terganggu karena ingin memenuhi standar kecantikan. Foto: Shutterstock

Perlu dipahami bahwa berusaha untuk selalu memenuhi standar kecantikan dapat memengaruhi kesehatan mental. Berikut dampaknya menurut Medical News Today.

1. Self-esteem rendah

Self-esteem adalah pandangan seseorang terhadap dirinya sendiri yang berpengaruh ke perilaku serta keputusan orang itu. Jika self-esteem seseorang rendah, ia akan cenderung kurang percaya diri dan selalu ragu-ragu dalam mengambil keputusan.

Nah, self-esteem ini dapat dipengaruhi oleh body image, atau pandangan seseorang terhadap tubuhnya sendiri. Seseorang dengan body image positif akan memiliki self-esteem yang tinggi, begitupun sebaliknya.

2. Anxiety

Body image yang negatif berkaitan erat dengan anxiety atau kecemasan. Apabila seseorang menganggap tubuhnya terlihat buruk, mereka akan selalu dirundung kekhawatiran berlebihan tentang cara orang lain memandang tubuhnya.

Mereka pun akan malu menghadapi orang lain karena merasa dinilai berdasarkan berat badan, tinggi badan, atau bentuk tubuhnya.

3. Isolasi sosial

Merujuk data Dove Self Esteem Project (2017), 8 dari 10 remaja putri di seluruh dunia memilih untuk tidak menghadiri acara sosial dan tidak bisa memberikan pendapat yang tegas karena self-esteem yang rendah.

Survei tersebut juga menemukan bahwa 4 dari 10 remaja perempuan memilih untuk tidak berpartisipasi dalam ekstrakurikuler karena tidak nyaman dengan penampilan tubuhnya.

Pada intinya, data tersebut menunjukkan bahwa perempuan yang merasa tidak mencapai standar kecantikan dapat berujung mengisolasi diri.

Baca Juga: 6 Cara agar Tidak Insecure karena Bentuk Fisik Tidak Sesuai Standar Kecantikan

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar: