terunik teraneh terselubung blogspot.com terlucu menarik di dunia tapi nyata dan terlangka aneh22 video gambar ajaib bin ajaib kau tuhan sungguh penuh kuasa unik77.tk unik4u unic77.tk gokil extreme medis kriminal arkeologi antariksa UFO dinosaurus kita flora fauna misteri bumi militer hiburan ekonomi bahasa teknologi sejarah politik tokoh hukum mumi rumor motivasi moral hewan tumbuhan tips trick kuliner otomotif pendidikan galleri musik sms hantu wallpaper artis indonesia foto hot syur panas download

>10.000 artikel menarik ada disini,silahkan cari:

Polisi: Video Pengeroyokan Mahasiswa UKI yang Beredar di Medsos Dimodifikasi - my blog

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Polisi: Video Pengeroyokan Mahasiswa UKI yang Beredar di Medsos Dimodifikasi
Apr 30th 2025, 16:21, by Rini Friastuti, kumparanNEWS

Kapolres Metro Jakarta Timur Kombes Pol Nicolas Ary Lilipaly saat mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi III DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (17/12/2024). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO
Kapolres Metro Jakarta Timur Kombes Pol Nicolas Ary Lilipaly saat mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi III DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (17/12/2024). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

Kapolres Metro Jakarta Timur, Kombes Nicolas Ary Lilipaly, menyebut video yang beredar di media sosial terkait kematian mahasiswa UKI Kenzha Ezra Walewangko, telah dimodifikasi.

Hal ini diungkapkan saat rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi III DPR RI di Jakarta Pusat, Rabu (30/4). Dalam video yang beredar itu, disebutkan bahwa Kenzha meninggal dunia akibat dikeroyok.

"Terkait dengan keterangan bahwa ada keributan atau pengeroyokan, kami sampaikan di sini bahwa ada video yang beredar di media sosial, tapi setelah video itu kami serahkan ke Puslabfor, ternyata video itu sudah dimodifikasi. Nanti ada hasilnya dari itu. Dan tidak terlihat bahwa terjadi pengeroyokan, keributan iya. Ada terjadi keributan, tapi tidak terjadi pengeroyokan seperti yang disampaikan," kata Nicolas di hadapan anggota dewan.

Nicolas juga membeberkan hasil penyelidikan dan keterangan dari total 47 orang saksi, termasuk 26 mahasiswa dan 8 petugas keamanan.

Dari keterangan saksi, korban disebut sempat minum bersama di dua lokasi sebelum kejadian, yakni di kampus HIPMI UKI dan di payungan tengah.

Rapat Dengar Pendapat Kematian Mahasiswa UKI di Komisi III DPR RI, Jakarta Pusat, Rabu (30/4/2025). Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan
Rapat Dengar Pendapat Kematian Mahasiswa UKI di Komisi III DPR RI, Jakarta Pusat, Rabu (30/4/2025). Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan

"Korban pada saat di payungan tengah itu sebelumnya di kampus HIPMI UKI dia minum vodka bersama dengan dua orang temannya. Selanjutnya sudah habis minuman itu, dia pindah minum arak Bali bersama temannya kurang lebih 10 orang di payungan tengah. Pada saat di payungan tengah itu dia jatuh sendiri tanpa disentuh orang lain, dia jatuh dua kali," paparnya.

Nicolas melanjutkan, setelah korban tak bisa berjalan sendiri, dia dibopong dua orang saksi menuju pagar kampus. Saat di pagar, korban disebut menggoyang-goyangkan pagar sambil berteriak, lalu terjatuh bersama pagar ke dalam got kering.

"Sampai di pinggir pagar, saksi berdiri dan memegang pagar dan menggoyang-goyangkan pagar sambil berteriak rasis. Berteriak rasis itu banyak saksi yang menyatakan dan mendengar itu. Karena goyangan pagarnya itu, korban jatuh dengan pagar bersamaan ke dalam got kering… dan di situ lah korban mulai luka, kepalanya mulai pecah dan di situ mulai darah bercucuran," ungkap Nicolas.

Korban kemudian diangkat dan sempat dipapah berjalan sejauh 10 meter, namun kembali jatuh lemas di atas aspal. Total, menurut polisi, korban disebut jatuh lima kali sebelum akhirnya dilarikan ke IGD RS UKI oleh dua petugas keamanan menggunakan sepeda motor.

Nicolas menegaskan berdasarkan keterangan saksi dan hasil analisis video, tidak ditemukan bukti pengeroyokan terhadap korban seperti yang sempat viral di media sosial.

Keluarga Minta Ekshumasi

Kuasa hukum keluarga Kenzha meminta agar jenazah mahasiswa UKI itu diekshumasi. Sebab, mereka tak percaya dengan hasil penyelidikan serta autopsi yang dilakukan Polres Jakarta Timur.

"Jadi saya fokuskan kembali kita lakukan ekshumasi kepada jenazah Kenzha. Kenapa? Kami bukan tidak percaya dengan hasil autopsi, karena itu adalah sains. Tetapi di balik ke sains itu kami sedikit tidak percaya," ujar kuasa hukum keluarga Kenzha, Manotar Tantobolong, saat RDP.

Ia pun menyatakan siap menghadirkan saksi-saksi kunci ke Polda Metro Jaya untuk membantu proses penyidikan.

"Jadi kepada yang terhormat penyidik di Polda Metro Jaya, bapak-bapak silakan lakukan penyidikan. Kami akan bawakan saksi-saksi kunci yang ada di TKP untuk memberikan apa yang mereka alami dan lihat pengeroyokan. Segera akan kami bawa ke sana," jelasnya.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar: