terunik teraneh terselubung blogspot.com terlucu menarik di dunia tapi nyata dan terlangka aneh22 video gambar ajaib bin ajaib kau tuhan sungguh penuh kuasa unik77.tk unik4u unic77.tk gokil extreme medis kriminal arkeologi antariksa UFO dinosaurus kita flora fauna misteri bumi militer hiburan ekonomi bahasa teknologi sejarah politik tokoh hukum mumi rumor motivasi moral hewan tumbuhan tips trick kuliner otomotif pendidikan galleri musik sms hantu wallpaper artis indonesia foto hot syur panas download

>10.000 artikel menarik ada disini,silahkan cari:

Cerita Fotografer Lari: Dipaksa Berhenti Kerja, Bangkit Lewat Kamera - my blog

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Cerita Fotografer Lari: Dipaksa Berhenti Kerja, Bangkit Lewat Kamera
Jun 1st 2025, 11:00 by kumparanBISNIS

Rijal Hidayatulloh, fotografer lari di balik akun @alturalica.photo tengah memotret salah satu event lari di Jakarta. Foto: Dokumentasi pribadi
Rijal Hidayatulloh, fotografer lari di balik akun @alturalica.photo tengah memotret salah satu event lari di Jakarta. Foto: Dokumentasi pribadi

Pagi itu, Sabtu (24/5), Rijal Hidayatulloh baru saja selesai memotret di Jalan Jalak Harupat, Kota Bogor. Bersama dengan enam fotografer lainnya, dia memilih sebuah tempat ngopi tak jauh dari lokasi foto untuk mengunggah hasil jempretannya ke Fotoyu, platform tempat jual beli foto olahraga se-Indonesia.

Memotret di Jalan Jalak Harupat menjadi salah satu kegiatan yang ditekuni Rijal sejak 3 tahun terakhir. Objeknya adalah orang-orang yang berlari atau sekadar berjalan kaki memutari area luar Kebun Raya Bogor atau populer disebut Kebun Raya SSA (Sistem Satu Arah) Loop.

Banyaknya para pelari profesional atau pelari rekreasional yang lewat jalur ini menjadi peluang Rijal mencari rejeki. Untuk satu foto, dia menjual Rp 50 ribu dan video Rp 100 ribu, harga yang disepakati para fotografer di area Kebun Raya Bogor dan sekitarnya. Mereka juga sepakat memberikan diskon jika pelari membeli banyak foto sekaligus.

Dari jepretan per jepretan yang terjual, Rijal bisa menghidupi keluarganya. Maklum saja, dia menjadi salah satu karyawan yang terkena efisiensi di tempatnya bekerja saat pandemi COVID-19 melanda, medio 2022.

Dia 'dipaksa' resign dengan sejumlah benefit yang didapatkan, tapi bukan pesangon layaknya pekerja yang di-PHK.

"Masa-masa paling berat itu 6 bulan pertama setelah resign, coba melamar ke mana-mana, enggak ada panggilan. Waktu itu masih ngontrak, anak masih kecil, tabungan juga habis," katanya kepada kumparan.

Setelah 6 bulan tidak dapat pekerjaan baru, Rijal yang sebelumnya hobi memotret pertandingan atau latihan sepak bola saat masih berstatus karyawan akhirnya ikut memotret para pelari di SSA Bogor atau pun di Lapangan Sempur yang tidak jauh dari Kebun Raya Bogor.

Dua bulan pertama dia menjadi fotografer lari, hanya mengantongi Rp 1 juta hingga Rp 2 juta per bulan. Tapi dapur rumah harus tetap mengebul. Berkenalan dengan fotografer lain, dia pun mencoba tempat foto baru seperti di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta.

Akhirnya coba moto di event Run with Me tahun 2024 di Jakarta, itu event pertama yang saya ikutin. Lumayan lah, cuma beberapa jam dapet Rp 700 ribu sampai Rp 800 ribu. Di situ jadi titik balik saya mutusin buat seriusin foto lari," terangnya.

Semakin rajin dia memotret, katanya, semakin banyak pelari yang mengenal dirinya, semakin banyak pula yang menebus fotonya. Mention foto-foto pelari secara gratis di akun Instagram-nya, @alturalica.photo, juga menjadi promosi gratis di media sosial. Apalagi di acara-acara lari yang pesertanya banyak.

Rijal Hidayatulloh, fotografer lari di balik akun @alturalica.photo tengah memotret salah satu event lari di Jakarta. Foto: Dokumentasi pribadi
Rijal Hidayatulloh, fotografer lari di balik akun @alturalica.photo tengah memotret salah satu event lari di Jakarta. Foto: Dokumentasi pribadi

Karena masih menganggur hingga saat ini, Rijal memilih memotret hampir setiap hari dengan rata-rata pendapatan per hari Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu di hari Senin-Jumat. Pernah juga tidak ada yang menebus fotonya sama sekali dalam satu hari. Karena itu, dia dan banyak fotografer mengincar event-event lari.

"Karena kalau di event itu kan rata-rata orang mau mengabadikan momennya habis race. Jadi peluang buat ditebus tuh banyak banget. Kalau diakumulasikan sebulan itu tertinggi pernah dapat Rp 13 juta, termasuk motret bola sebulan bisa 4 kali," jelasnya.

Meski begitu, Rijal mengaku tetap ingin bisa kembali bekerja kantoran. Menurutnya, meski bisa mendapatkan mengantongi dua digit dari hasil motret per bulan, tapi bukan pendapatan yang pasti. Jika ada peluang, dia mengaku mau kembali berkantor dan menjadikan fotografi olahraga sebagai pekerjaan sampingan.

Beli Kamera dari BPJS Ketenagakerjaan

Cerita lain datang dari Redy Rahmat, fotografer kelahiran 1996 ini mengaku baru menekuni fotografi lari sejak COVID-19, sekitar 2023. Kisahnya sama seperti Rijal Hidayatulloh, dia dipaksa resign saat tempat bekerjanya goyah di masa pandemi.

"Awalnya kerja kantoran, tapi waktu itu 60 persen pekerja dirumahkan dan mulai banyak PHK. Waktu itu kontrak masih ada 2 tahun lagi, tapi sudah enggak kondusif situasinya," katanya kepada kumparan, Kamis (28/5).

Pandemi COVID-19 juga membuat Redy yang sebelumnya merupakan fotografer lepas untuk acara pernikahan juga terancam. Karena orang-orang tidak boleh bepergian atau berkerumun, jadi nyaris tidak ada hajatan.

Di tengah kegalauannya, Redi melihat ada peluang baru. Dia melihat banyak orang lari di Lapangan Sempur dan banyak yang memotret. Akhirnya dia menggunakan uang Jaminan Hari Tua yang dicairkan dari BPJS Ketenagakerjaan untuk membeli kamera baru. Meski bukan kamera tele, tapi menurutnya gear yang dia beli sejauh ini masih mendukung untuk memotret orang-orang yang berolahraga di Bogor, Jakarta, hingga Bandung.

"Jadi karena saya pakai kamera fix, fotonya kurang wide (luas menangkap objek foto dan tidak bisa di-zoom). Karena itu juga saya coba cari angle lain, lebih ke memotret momen orang-orang sehabis lari. Misal, ada yang lagi capek lari, tapi kelihatan happy, nah itu momen yang ditangkap," ujar pemilik akun @redy_rahmat ini.

Karena keterbatasan kamera, Redy juga memanfatkan wadah lain untuk memasarkan foto-foto dan jasanya. Bukan cuma jualan di Fotoyu, dia mulai mengajak pelari-pelari rekreasional untuk kolaborasi di akun TikTok miliknya.

Setiap mengajak kolaborasi, Redy setidaknya membuat dua konten. Pertama, konten video singkat saat dia mengajak objeknya untuk foto, biasanya orang-orang baru yang dikenalnya. Video itu dia beri judul yang bikin orang penasaran, misalnya "Ajakin foto teteh-teteh Bogor". Di konten kedua, Redy mengunggah hasil foto-fotonya dan dia bagikan gratis kepada objeknya.

Akun TikTok Redy Rahmat, tempat promosi tawarkan jasa foto. Foto: Screenshot di TikTok
Akun TikTok Redy Rahmat, tempat promosi tawarkan jasa foto. Foto: Screenshot di TikTok

Redy mengaku jika views dari kedua konten itu tinggi, bisa mendapatkan komisi dari TikTok Studio. Bukan hanya menangkap momen orang-orang olahraga, dia juga kerap bikin konten di tempat yang lagi ramai seperti saat memotret orang-orang saat acara Kampanye Akbar Capres 02 di GBK pada 11 Februari 2024 yang FYP karena views-nya tembus 1 juta. Semakin tinggi engagement dan impressions kontennya, semakin cuan akunnya. Bayarannya mulai dari Rp 160 ribu hingga Rp 2,4 juta, tergantung jumlah views.

"Untuk foto di satu event lari itu kan minimal bisa mengantongi Rp 1,5 jutaan, ditambah dari foto wedding dan konten di TikTok yang setara UMR Bogor. Jadi sebulan rata-rata bisa dapat Rp 10 juta lebih sebulan kalau ramai," katanya.

Menurut Redy, keaktifannya di TikTok juga membuka banyak relasi. Tidak sedikit ajakan fotografi private dia dapatkan dari orang-orang di akun tersebut, terutama untuk undangan foto pernikahan.

"Jadi menurut saya peluang itu banyak banget, termasuk dengan manfaatin TikTok ini dari konten foto-foto kita. Pokoknya harus melek digital," jelasnya.

Berbeda dengan Rijal, Redy mengaku tidak tertarik lagi bekerja kantoran. Selain karena pendapatannya sekarang jauh di atas gaji saat jadi karyawan, dia ingin membangun branding lebih kuat lagi di TikTok dan memberikan workshop soal peluang cuan dari aplikasi ini kepada fotografer muda yang baru terjun ke dunia ini.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar: