terunik teraneh terselubung blogspot.com terlucu menarik di dunia tapi nyata dan terlangka aneh22 video gambar ajaib bin ajaib kau tuhan sungguh penuh kuasa unik77.tk unik4u unic77.tk gokil extreme medis kriminal arkeologi antariksa UFO dinosaurus kita flora fauna misteri bumi militer hiburan ekonomi bahasa teknologi sejarah politik tokoh hukum mumi rumor motivasi moral hewan tumbuhan tips trick kuliner otomotif pendidikan galleri musik sms hantu wallpaper artis indonesia foto hot syur panas download

>10.000 artikel menarik ada disini,silahkan cari:

Partisipasi Pemilih Pilkada 2024 di DIY Paling Rendah Sejak 2017 - my blog

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Partisipasi Pemilih Pilkada 2024 di DIY Paling Rendah Sejak 2017
Nov 28th 2024, 14:44, by Pandangan Jogja Com, Pandangan Jogja

Ilustrasi warga di bilik suara. Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Ilustrasi warga di bilik suara. Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), memperkirakan angka partisipasi pemilih di Pilkada DIY 2024 lebih rendah dibandingkan dengan penyelenggaraan Pilkada di DIY pada 2 periode sebelumnya, yakni Pilkada 2020 dan Pilkada 2017.

Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat, dan SDM KPU DIY, Sri Surani, mengatakan dalam pemilu kali ini, tingkat partisipasi diperkirakan akan berada di bawah 80 persen berbeda dengan Pilkada 2020 yang mencatatkan angka lebih dari 80 persen di beberapa kabupaten seperti Gunungkidul, Sleman, dan Bantul.

"Kami prediksi partisipasi kali ini di angka 70 persen ke atas, tetapi memang di bawah 80 persen," kata Surani dalam konferensi pers di KPU DIY, Kamis (28/11).

Berdasarkan catatannya, pada Pilkada DIY 2017, tingkat partisipasi di DIY tercatat mencapai 77 persen. Kemudian partisipasi pemilih di Pilkada DIY 2020 menunjukkan lonjakan signifikan. Di masa pandemi Covid-19, sejumlah kabupaten di DIY, seperti Gunungkidul, Sleman, dan Bantul, mencatatkan angka partisipasi di atas 80 persen.

Konferensi pers KPU DIY, Kamis (28/11). Foto: Widi RH Pradana/Pandangan Jogja
Konferensi pers KPU DIY, Kamis (28/11). Foto: Widi RH Pradana/Pandangan Jogja

Diakui Surani, salah satu faktor penyebab penurunan angka partisipasi ini adalah perbedaan komposisi pemilih. Dalam Pilkada, hanya pemilih yang memiliki KTP setempat yang dapat memilih, berbeda dengan pemilu di mana pemilih yang berdomisili di luar DIY masih bisa memilih di wilayah tersebut.

Banyak juga pemilih yang sehari-harinya tidak berada di tempat asal mereka, seperti yang terjadi di Kota Yogyakarta, yang menyebabkan mereka tidak datang ke TPS pada hari pemungutan suara.

"Di pilkada, pemilihnya adalah orang yang dengan KTP setempat. Sementara fakta lapangan bahwa orang yang ber-KTP misalnya Kota Yogyakarta tidak semua pada hari H itu ada di Kota. Kesehariannya itu tidak ada di Kota. Itu banyak, dan pada hari pembukaan suara, dia tidak datang ke Kota untuk menggunakan hak pilih," ujarnya.

Meski demikian, ia menjelaskan bahwa pemilih saat ini lebih selektif dalam memilih calon, dengan lebih memperhatikan rekam jejak masing-masing calon. Masyarakat kini lebih cermat dalam menggunakan hak pilihnya, mengakses informasi tentang calon-calon yang bertarung, serta berdiskusi mengenai visi-misi mereka.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar: