terunik teraneh terselubung blogspot.com terlucu menarik di dunia tapi nyata dan terlangka aneh22 video gambar ajaib bin ajaib kau tuhan sungguh penuh kuasa unik77.tk unik4u unic77.tk gokil extreme medis kriminal arkeologi antariksa UFO dinosaurus kita flora fauna misteri bumi militer hiburan ekonomi bahasa teknologi sejarah politik tokoh hukum mumi rumor motivasi moral hewan tumbuhan tips trick kuliner otomotif pendidikan galleri musik sms hantu wallpaper artis indonesia foto hot syur panas download

>10.000 artikel menarik ada disini,silahkan cari:

Memahami Produksi Migas & Tantangan PHE untuk Memenuhi Pasokan Energi Nasional - my blog

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Memahami Produksi Migas & Tantangan PHE untuk Memenuhi Pasokan Energi Nasional
May 8th 2024, 20:21, by Nada Meita N, kumparanBISNIS

Ilustrasi pengeboran PT Pertamina Hulu Energi (PHE). Foto: PHE
Ilustrasi pengeboran PT Pertamina Hulu Energi (PHE). Foto: PHE

Pemerintah terus mendorong target produksi migas dalam negeri. Pada 2030, angkanya diharapkan menjadi satu juta barel minyak per hari dan gas 12 BSCFD agar dapat mengurangi impor.

Bukan tanpa alasan, pengurangan impor membuat pemerintah memiliki ruang yang lebih luas untuk melakukan pembiayaan pengembangan energi terbarukan. Dengan begitu, visi net zero emission sebelum tahun 2060 bisa lebih cepat terealisasi.

Berbagai pihak pun mengusahakan tercapainya target ini, salah satu yang bekerja keras adalah PT Pertamina Hulu Energi (PHE). Sebagai subholding upstream Pertamina, PHE berkomitmen dalam mendorong produksi migas untuk memenuhi kebutuhan energi nasional dengan berbagai strategi.

Mulai dari mencari peluang dengan eksplorasi di luar wilayah eksisting, merging, serta frontier area; menambah 10 persen Participating Interest di Irak; hingga menambah perpanjangan kontrak MLN Algeria.

Sehingga, tak hanya menjaga keberlanjutan hulu migas dalam negeri, strategi ini juga diharapkan dapat mendukung kinerja PHE di kancah internasional.

Ilustrasi pengeboran PT Pertamina Hulu Energi (PHE). Foto: PHE
Ilustrasi pengeboran PT Pertamina Hulu Energi (PHE). Foto: PHE

Sejauh ini, strategi itu membuahkan hasil cemerlang. Hal tersebut terbukti dari kinerja PHE sepanjang tahun 2023 dan trimester 1 2024.

PHE mencatatkan produksi minyak sebesar 548 ribu barel per hari (MBOPD) dan produksi gas 2,86 miliar standar kaki kubik per hari (BSCFD). Dengan begitu, produksi migas telah mencapai angka 1,04 juta barel setara minyak per hari (MBOEPD) hingga trimester 1 tahun 2024 yang merupakan konsolidasi dari seluruh anak usaha PHE.

Di sisi lain, PHE berhasil menyelesaikan pengeboran 3 sumur eksplorasi, 163 sumur pengembangan, 219 workover dan 8.323 well services hingga Maret 2024. Perusahaan juga mencatatkan survei Seismik 2D sepanjang 12 km dan 3D sepanjang 2.602 km².

Lantas sebenarnya, bagaimana tahapan produksi migas di Indonesia? Apa saja tantangan yang dihadapi PHE dalam mencapai target itu?

Tahapan Produksi Migas

Kegiatan mengangkat minyak dari dalam perut bumi lalu mengolahnya menjadi produk yang diinginkan memerlukan proses panjang. Setiap memproduksi migas, PHE perlu melakukan tahap eksplorasi terlebih dahulu.

Proses eksplorasi minyak bumi dilakukan dengan beberapa tahap. Setelah mendapatkan kontrak kerja sama dengan pemerintah, studi geologi dan studi geofisika akan dilakukan.

PHE kemudian akan melakukan survei seismik sebelum melakukan pengeboran eksplorasi. Umumnya, proses pengeboran minyak bumi pada 1 titik memakan waktu 1-4 bulan.

Sukowati Field Lokasi Injeksi CO2 CCUS Pertamina Hulu Energi di Bojonegoro. Foto: Pertamina
Sukowati Field Lokasi Injeksi CO2 CCUS Pertamina Hulu Energi di Bojonegoro. Foto: Pertamina

Nah, selama 2023, PHE telah mencapai total temuan sumber daya 2C sebesar 488 MMBOE (Juta Barel Minyak Ekuivalen/Setara Minyak). Jumlah ini 68 persen melebihi target.

Sementara hingga Maret 2024, PHE mencapai total temuan sumber daya 2C sebesar 140 MMBOE.

Dalam 2 tahun terakhir, PHE berhasil mendapatkan temuan signifikan melalui kegiatan eksplorasi di blok eksisting, antara lain temuan eksplorasi di R-2 (Offshore Aceh), Wilela (Sumatera Selatan), GQX-1 (Offshore Jawa Barat), East Akasia Cinta-001 (Jawa Barat) dan East Pondok Aren-001 (Jawa Barat), Manpatu 1-X (Kalimantan) dan Wolai kompleks (Sulawesi).

Namun, apakah perjalanan produksi migas hanya sampai di sini? Tentu belum. Setelah eksplorasi berhasil, produksi migas akan melalui 3 tahap. Apa saja?

1. Primary Recovery

Primary recovery merupakan cara memproduksi sumur secara alami dengan tekanan reservoir yang ada menggunakan pompa atau dengan gas lift. Tujuannya agar kolom fluida lebih ringan sehingga minyak bisa mengalir.

2. Secondary Recovery

Pada tahap ini, energi buatan seperti injeksi fluida digunakan untuk mendorong minyak ke lubang sumur. Secondary recovery dilakukan dengan melakukan pendorongan air atau pendorongan gas.

Kapal pengangkut pekerja melintasi Anjungan Central Plant Pertamina Hulu Energi (PHE) Offshore North West Java (ONWJ) di lepas pantai utara Subang, Laut Jawa, Jawa Barat, Minggu (2/4/2023). Foto: Aditya Pradana Putra/Antara Foto
Kapal pengangkut pekerja melintasi Anjungan Central Plant Pertamina Hulu Energi (PHE) Offshore North West Java (ONWJ) di lepas pantai utara Subang, Laut Jawa, Jawa Barat, Minggu (2/4/2023). Foto: Aditya Pradana Putra/Antara Foto

3. Tertiary Recovery

Tahap ini dilakukan dengan cara menginjeksi air yang sudah ditambahkan zat kimia (polimer, surfaktan), menginjeksi gas yang larut dalam minyak, menginjeksi uap air untuk menurunkan viskositas, membakar sebagian minyak, atau menginjeksi mikroba.

Tantangan PHE dalam Mencapai Target Produksi Migas dalam Negeri

Dengan panjangnya proses produksi tersebut, PHE masih menjumpai tantangan untuk mencapai target produksi migas dalam negeri. Terutama untuk mengejar trilema energi.

Merupakan konsep yang dipakai industri hulu dan hilir migas, trilema energi dilakukan guna memenuhi kebutuhan energi dunia, yaitu menyeimbangkan antara ketahanan energi (energy security), keterjangkauan (affordability), dan keberlanjutan (sustainability).

Untuk menghadapi ini, PHE perlu menggali peran krusial geomatika dalam mendukung kegiatan operasional di lingkungan yang menantang seperti laut dalam, daerah terpencil, dan lapangan mature.

Direktur Utama PHE, Chalid Said Salim mengatakan, PHE akan terus melaksanakan kinerja unggul dengan mengedepankan aspek keselamatan di setiap lini pekerjaan yang sesuai good corporate governance.

"PHE akan terus berkomitmen untuk terus berkontribusi pada pemenuhan energi nasional. Guna memenuhi target dan dengan mitigasi tantangan yang ada, PHE menerapkan Transformasi strategi perusahan yang akan dijalankan sepanjang tahun 2024 ini," katanya.

Pertamina Hulu Energi. Foto: Dok. Pertamina
Pertamina Hulu Energi. Foto: Dok. Pertamina

PHE pun memiliki beberapa strategi untuk menghadapi kondisi-kondisi penuh tantangan itu. Selain merevitalisasi aset perusahaan, PHE juga aktif melakukan kegiatan eksplorasi di intra field dan intra development. Cara ini bisa menyambungkan lapangan-lapangan mature ke fasilitas produksi yang ada, agar PHE dapat mengganti produksi yang menurun.

Eksplorasi stepping out juga dilakukan sebagai langkah untuk menemukan berbagai cadangan migas baru yang bisa dikembangkan di kemudian hari. Pada 2023, PHE mendapatkan wilayah kerja eksplorasi dengan mayoritas sumber daya gas di Peri Mahakam & Bunga yang berlokasi di Indonesia Timur.

Wilayah kerja di East Natuna, area perbatasan negara Indonesia-Malaysia-Vietnam dan proyek strategis nasional Masela, juga berhasil ditemukan.

Pengembangan lapangan pun giat dilakukan guna mendorong produksi migas. Hingga saat ini, PHE berhasil melakukan salah satu proyek strategis pengeboran sumur Migas Non Konvensional (MNK) yang berada di Lapangan Gulamo, Kecamatan Tanah Putih, Kabupaten Rokan Hilir, Riau pada akhir Juli 2023.

PHE juga mengimplementasikan teknologi Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS) di Lapangan Pertamina EP Sukowati Bojonegoro, Jawa Timur yang ditandai dengan peresmian injeksi perdana CO2 ke Lapangan Sukowati menggunakan metode Huff & Puff.

Kegiatan produksi hulu migas berlangsung di Anjungan Central Plant dan Anjungan Bravo Flow Station Pertamina Hulu Energi (PHE) Offshore North West Java (ONWJ), lepas pantai utara Subang, Laut Jawa, Jawa Barat, Minggu (2/4/2023). Foto: Aditya Pradana Putra/Antara Foto
Kegiatan produksi hulu migas berlangsung di Anjungan Central Plant dan Anjungan Bravo Flow Station Pertamina Hulu Energi (PHE) Offshore North West Java (ONWJ), lepas pantai utara Subang, Laut Jawa, Jawa Barat, Minggu (2/4/2023). Foto: Aditya Pradana Putra/Antara Foto

"Kami bersyukur dengan seluruh pencapaian tersebut, kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pemangku kepentingan yang senantiasa mendukung kegiatan operasional perusahaan sehingga dapat berjalan dengan lancar, " tambah Chalid.

PHE akan terus berinvestasi dalam pengelolaan operasi dan bisnis hulu migas sesuai prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Salah satunya dengan terdaftar menjadi member United Nations Global Compact ("UNGC") sejak Juni 2022.

PHE pun berkomitmen pada Sepuluh Prinsip Universal atau Ten Principles dari UNGC dalam strategi dan operasionalnya, sebagai bagian penerapan aspek ESG.

Sementara dalam mendukung aspek Governance, PHE senantiasa berkomitmen Zero Tolerance on Bribery dengan memastikan pencegahan atas fraud dilakukan dan memastikan perusahaan bersih dari penyuapan. Salah satunya dengan implementasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) yang telah berstandar ISO 37001:2016.

Ke depannya, PHE akan terus berkomitmen untuk mendorong laju produksi migas dalam negeri hingga mencapai satu juta barel per hari.

Artikel ini dibuat oleh kumparan Studio

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar: