terunik teraneh terselubung blogspot.com terlucu menarik di dunia tapi nyata dan terlangka aneh22 video gambar ajaib bin ajaib kau tuhan sungguh penuh kuasa unik77.tk unik4u unic77.tk gokil extreme medis kriminal arkeologi antariksa UFO dinosaurus kita flora fauna misteri bumi militer hiburan ekonomi bahasa teknologi sejarah politik tokoh hukum mumi rumor motivasi moral hewan tumbuhan tips trick kuliner otomotif pendidikan galleri musik sms hantu wallpaper artis indonesia foto hot syur panas download
>10.000 artikel menarik ada disini,silahkan cari:
Prabowo Subianto Warisi Utang RI Rp 8.560 Triliun per Oktober 2024 - my blog
Dec 2nd 2024, 14:34, by Muhammad Darisman, kumparanBISNIS
Presiden Prabowo Subianto melakukan Video Konferensi bersama Menteri dan BNPB, Rabu (13/11/2024). Foto: Dok. Istimewa
Presiden Prabowo Subianto mewarisi utang Indonesia sebesar Rp 8.560,36 triliun per akhir Oktober 2024. Hal itu diungkapkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani.
Sri Mulyani mengatakan, nilai utang itu naik sekitar Rp 87 triliun atau 1,02 persen dibanding posisi per akhir September 2024 sebesar Rp 8.473,90 triliun.
Meski meningkat, rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih berada di level aman yakni 38,66 persen. Batas aman 60 persen PDB sesuai Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
"Pengelolaan portofolio utang berperan besar dalam menjaga kesinambungan fiskal secara keseluruhan. Oleh karena itu, pemerintah konsisten mengelola utang secara cermat dan terukur dengan menjaga risiko suku bunga, mata uang, likuiditas, dan jatuh tempo yang optimal," kata Sri Mulyani dalam buku APBN KiTa, Senin (2/12).
Rata-rata jatuh tempo utang pemerintah, atau average time maturity (ATM), tercatat cukup aman di angka 8,02 tahun. Selain itu, 80,2 persen dari total utang menggunakan suku bunga tetap (fixed rate), sementara 72,1 persen utang berdenominasi dalam rupiah, sehingga risiko tingkat bunga dan nilai tukar dinilai terkendali.
Dari sisi instrumen, mayoritas utang pemerintah berbentuk Surat Berharga Negara (SBN), yang mencapai 88,21 persen dari total utang.
"Pasar SBN yang efisien akan meningkatkan daya tahan sistem keuangan Indonesia terhadap guncangan ekonomi dan pasar keuangan," jelas Sri Mulyani.
Investor domestik mendominasi kepemilikan SBN dengan porsi 85,02 persen, sementara kepemilikan asing hanya 14,98 persen. SBN juga menjadi alat penting bagi lembaga keuangan domestik, seperti perbankan, perusahaan asuransi, dan dana pensiun, dalam memenuhi kebutuhan investasi dan pengelolaan likuiditas.
Untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan utang, pemerintah terus mengembangkan pasar SBN domestik agar semakin dalam, aktif, dan likuid. Strategi ini mencakup pengembangan SBN berbasis lingkungan seperti Green Sukuk serta SBN bertema SDGs seperti SDG Bond dan Blue Bond.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar