terunik teraneh terselubung blogspot.com terlucu menarik di dunia tapi nyata dan terlangka aneh22 video gambar ajaib bin ajaib kau tuhan sungguh penuh kuasa unik77.tk unik4u unic77.tk gokil extreme medis kriminal arkeologi antariksa UFO dinosaurus kita flora fauna misteri bumi militer hiburan ekonomi bahasa teknologi sejarah politik tokoh hukum mumi rumor motivasi moral hewan tumbuhan tips trick kuliner otomotif pendidikan galleri musik sms hantu wallpaper artis indonesia foto hot syur panas download
>10.000 artikel menarik ada disini,silahkan cari:
Dubes Iran: Kami Berhenti Serang Jika Rezim Zionis Israel Berhenti Menyerang - my blog
Hubungan Iran dan Israel menegang setelah kedua negara bertukar serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) dalam 12 hari terakhir. Ketegangan itu bermula dari serangan Israel ke Iran pada 13 Juni 2025 dini hari yang membuat warga sipil, ilmuwan nuklir, hingga pejabat tinggi militer Iran tewas.
Setelah Amerika Serikat mengumumkan gencatan senjata, ketegangan berangsur mereda dan ancaman Iran untuk menutup Selat Hormuz urung dilakukan. Namun rupanya gencatan senjata itu tidak serta merta diterima Iran meski Iran dan Israel kini sudah tak lagi berbalas serangan.
Duta Besar Republik Islam Iran untuk Republik Indonesia Mohammad Boroujerdi menyampaikan perspektif terkini mengenai peperangannya dengan Israel. Ia menyebut Iran-Israel tidak dalam status gencatan senjata seraya menegaskan bahwa negaranya menyerang dalam rangka membela diri.
Boroujerdi menyinggung bantuan Amerika Serikat terhadap Israel dalam perang ini hingga menjelaskan seluk beluk program nuklir Iran. Iran mengkritik pendekatan AS yang melarang negaranya melakukan pengayaan uranium dan menyebut pendekatan itu "keliru dan sangat berbahaya" karena memaksakan kehendak kepada negara lain.
Simak perbincangan kumparan dengan Boroujerdi di kediamannya di Jakarta, Senin (30/6), dalam petikan wawancara berikut ini:
Dubes Iran untuk RI, Mohammad Boroujerdi. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Bagaimana kondisi terkini di Iran?
Saya rasa bagaimanapun perang merupakan hal tidak baik dan semua pihak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam setiap peperangan akan menerima dampak dan kamipun menerima dampak dari perang yang dimulai dan dicetuskan oleh rezim Zionis Israel kepada kami.
Tetapi kenyataan di lapangan adalah masyarakat negara kami pada saat serangan maupun pasca serangan menjalankan kehidupan mereka secara biasa dan aktivitas sehari-hari berjalan.
Di beberapa media muncul pengumuman gencatan senjata, kenapa Iran menerima gencatan senjata?
Tentu saja kami tidak menerima gencatan senjata. Yang terjadi adalah pemberhentian reaksi dari kami dikarenakan aksi terhadap kami berhenti. Kami tidak dalam gencatan senjata, tidak dalam status gencatan senjata, tetapi dalam status perang sedang berhenti. Dikarenakan yang melakukan agresi menghentikan agresinya, maka kami tidak melakukan serangan balasan atau retaliasi.
Pihak lawan, yaitu rezim Zionis Israel, sebenarnya ingin mengundang negara dan pihak lain agar terlibat dalam perang ini dan tentu jika para negara sahabat dan sekutu kami juga akan masuk ke dalam peperangan, maka peperangan ini akan diluaskan, akan meluas ke wilayah Timur Tengah dan bahkan dunia.
Kami sejak hari pertama telah menyampaikan bahwa kami hanya ingin menyebarluaskan kedamaian dan stabilitas, dan tentu saja hal yang kami lakukan bukan menyerang, tetapi kami adalah di pihak negara yang membela diri. Maka reaksi kami berhenti ketika aksi dari mereka berhenti. Atau dalam istilahnya adalah berhenti untuk berhenti. Jadi mereka berhenti memberikan serangan, kami pun berhenti memberikan balasan.
Kami beranggapan bahwa balasan dari kami harus merupakan balasan yang tegas dan kuat terhadap rezim Zionis Israel. Dikarenakan rezim ini telah membuktikan bahwa apabila dia merasa kuat, dia akan menyerang pihak lainnya. Maka balasan kami kepada rezim Zionis adalah balasan yang kuat dan juga tegas. Kami yakin bahwa rezim Zionis harus diberikan tamparan yang tegas dan serius. Dikarenakan apabila dibiarkan, rezim Zionis akan makin ganas.
Sejumlah warga mencari memeriksa kerusakan di sebuah sekolah UNRWA yang menampung para pengungsi yang terkena serangan udara Israel di Gaza, Senin (30/6/2025). Foto: Mahmoud Issa/REUTERS
Jadi dipastikan Iran tidak akan menyerang lebih dulu?
Tentu kami tidak akan menyerang pihak manapun terlebih dahulu. Kami lakukan hanya pembelaan terhadap diri dan negara kami. Sama seperti operasi True Promise atau Janji Sejati, yang mana itu adalah respons dan tanggapan Iran terhadap langkah-langkah dan serangan-serangan pengecut yang dilakukan oleh rezim Zionis Israel.
Ketika rezim Zionis menyerang gedung konsulat kedutaan Iran di Suriah, maka kami memberikan tanggapan berupa operasi True Promise 1 atau Janji Sejati 1. Ketika Zionis melakukan teror terhadap tamu negara kami, Ismail Haniyeh, dan tidak menghormati teritori Iran dan tidak menghormati tamu kenegaraan kami, maka kami menjawab dengan True Promise kedua.
Dan kini, setelah Israel melalui operasi pengecut dan militernya membunuh masyarakat Iran, membunuh para panglima dan ilmuwan negara kami, tentu kami melancarkan aksi bela diri yaitu True Promise Ketiga.
Sejumlah warga menghadiri prosesi pemakaman komandan militer Iran ilmuwan nuklir dan lainnya yang terbunuh dalam serangan Israel di Teheran, Iran, Sabtu (28/6/2025). Foto: WANA (West Asia News Agency) via REUTERS
Iran kini disebut sebagai benteng terakhir Islam. Apa yang mendorong keberanian itu?
Negara kami ditindas oleh rezim Zionis Israel, tetapi kami tidak lemah. Kami merupakan negara yang kuat. Mengapa saya sebut ditindas? Dikarenakan ini merupakan serangan yang ilegal, tidak diperbolehkan melakukan serangan ke wilayah dan teritori negara lain, tidak ada serangan yang diperbolehkan. Maka kami ditindas. Mengapa saya sebut kami kuat? Dikarenakan kami memberikan balasan yang sangat tegas.
Rezim Zionis Israel tentu secara ilegal menyerang negara kami dan melanjutkan pembunuhan kriminalnya di sana dan melancarkan kejahatan. Mengapa ilegal? Saya jelaskan lagi bahwa memang tidak diperbolehkan. Mengapa kriminal? Dikarenakan dia menumpahkan darah dari masyarakat yang tidak berdosa. Kami percaya bahwa dalam pertarungan ini, kami tidak sendiri. Dikarenakan Iran bukan merupakan negara atau target pertama Zionis dan bukan merupakan target terakhir dari rezim Zionis Israel.
Hanya saja keadaan kami berbeda dengan negara yang sebelumnya menjadi sasaran dari rezim Zionis Israel. Misalkan di Lebanon, mereka berpikir bahwa kondisinya akan sama terjadi di Iran, dengan menyerang para panglimanya, mungkin kondisinya akan kurang lebih seperti di Lebanon, atau dengan Gaza, di Palestina, di Yaman. Mereka beranggapan setelah perang, setelah serangan, akan kurang lebih sama.
Kondisi usai serangan udara yang menargetkan sebuah lingkungan di kota Idlib, Suriah, Minggu (1/12/2024). Foto: MUHAMMAD HAJ KADOUR / AFP
Coba lihat keadaan yang terjadi di Suriah. Walaupun terjadi regime change di sana, dan pemerintahan baru Suriah tidak pernah menembakkan satu peluru pun kepada Zionis, setiap harinya menjadi sasaran dari serangan Zionis. Atau di Gaza, bahkan senjata sederhana seperti Kalashnikov pun mereka tidak punya. Dan dalam dua pekan kemarin, 200 masyarakat Palestina jadi korban. Di Palestina, khususnya di Gaza, bahkan satu tembok pun yang masih berdiri tegak lurus tidak ada. Semua sudah dihancurkan.
Tetapi Iran adalah lawan yang berbeda. Iran berani memberikan balasan dan mampu memberikan balasan. Kami berbeda dengan masyarakat di jalur Gaza, yang sehari-harinya harus berhadapan dengan kelaparan. Mereka sejumlah masyarakat tidak berdosa yang bahkan tidak memiliki senjata ringan untuk membela diri. Mereka harus dihadapkan kepada situasi kelaparan, bahkan dalam dua minggu belakangan ini 200 di antara mereka dimatikan, dibunuh dan menjadi mati syahid.
Kami berbeda, kami adalah negara yang mana apabila diserang, kami balas. Dan kami menjadi benteng terakhir untuk umat Islam dan untuk dunia Islam. Kami percaya bahwa rezim Zionis akan mengincar semua negara pendukung dari Palestina. Beruntung letak geografis Indonesia jauh dari rezim Zionis. Kalau dekat, sudah pasti menjadi target dari rezim Zionis ini. Dikarenakan Zionis telah membuktikan dia akan datang dan akan mengincar seluruh negara pendukung hak masyarakat Palestina, termasuk negara kami.
Warga Palestina menerima pasokan bantuan di Beit Lahia, di Jalur Gaza utara, Rabu (25/6/2025). Foto: Dawoud Abu Alkas/REUTERS
Bagaimana Anda melihat keterlibatan Amerika Serikat saat menyerang tiga fasilitas nuklir Iran?
Dukungan Amerika Serikat terhadap rezim Zionis Israel bukan merupakan hal yang baru. Amerika selalu memberikan dukungan terhadap rezim ilegal ini sejak pendiriannya sampai dengan sekarang. Zionis bukan merupakan sebuah pemerintahan, bukan bentuk state atau negara, [mereka] merupakan sejumlah militer atau sejumlah angkatan bersenjata yang melakukan okupasi. Mereka adalah tentara yang melakukan okupasi terhadap wilayah negara lain.
Dan untuk itu, dikarenakan bukan merupakan bentuk pemerintahan, mereka hanya akan menjalankan satu kebijakan, yaitu jangan sampai musuh mereka bersatu. Tentu apabila [sekitar] 51 negara Muslim bersatu melawan rezim Zionis, memberikan kutukan ketika Zionis menyerang balik, memberikan dukungan kepada pihak yang menjadi sasaran rezim Zionis, pasti rezim Zionis tidak berani untuk melakukan serangan.
Tentu saja, Amerika dan dua negara adidaya lainnya, selama 12 hari peperangan Zionis dengan negara kami, diseret-seret oleh rezim Zionis Israel agar mereka bisa terlibat dalam perang 12 hari dengan kami. Dikarenakan apabila Amerika tidak ikut terlibat, maka rezim Zionis pasti akan mengalami kekalahan. Untuk itu, untuk mencegah kekalahan tersebut, mereka menyeret-nyeret Amerika Serikat.
Petugas penyelamat dan petugas keamanan bekerja di lokasi yang terkena dampak setelah serangan rudal dari Iran, di tengah konflik Iran-Israel di Tel Aviv, Israel, Minggu (22/6/2025). Foto: Tomer Appelbaum/REUTERS
Tentu saja, mereka menyerang panglima dari Iran, berbagai komandan dari Iran, dan ilmuwan negara kami, dan tentu kami memberikan balasan yang sangat tegas, yaitu dengan menjadikan Tel Aviv dan Haifa sebagai sasaran dari kami. Dan tentu saja, mereka lihat bahwa ini merupakan ancaman yang nyata, dan apabila ini tidak dilibatkan pihak lain, maka mereka akan kalah, Zionis akan kalah. Maka Amerika diseret untuk masuk ke dalam peperangan ini, dan dia menyerang tiga situs nuklir Iran.
Kemudian secara mengejutkan, Amerika secara sepihak juga melakukan atau mengumumkan gencatan senjata. Dan tidak mungkin apabila tidak dalam kondisi akan mengalami kekalahan, rezim Zionis mau menerima hal ini.
Israel menerima gencatan senjata dikarenakan apabila tidak, dia akan mengalami kekalahan. Apabila dia merasa kuat, pasti akan melanjutkan serangan terhadap negara kami. Dan saya nilai, keikutcampuran Amerika dalam serangan ini merupakan bentuk bantuan Amerika agar bisa memberikan ruang kepada rezim Zionis keluar dari lumpur itu, lumpur peperangan dengan Iran secara terhormat.
Apakah benar dengan eskalasi ketegangan ini, Iran menarik diri dari negosiasi nuklir yang diinginkan Amerika Serikat?
Kami pernah berulang kali melakukan negosiasi dengan negara P5+1 (China, Prancis, Rusia, Inggris, dan Amerika Serikat; ditambah Jerman). Kami melakukan negosiasi yang sangat panjang dan melalui sebuah kesepakatan JCPOA (Rencana Aksi Komprehensif Bersama/Joint Comprehensive Plan of Action) yang di-endorse oleh resolusi Dewan Keamanan PBB, kami mencapai kepada sebuah kesepakatan. Tapi Amerika Serikat secara sepihak keluar dari kesepakatan tersebut.
Kami lanjut melakukan negosiasi beberapa saat kemudian, yaitu belakangan ini. Kami telah lima kali, lima putaran melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat. Tetapi di pertengahan bulan, di tanggal 13 bulan Juni, di mana rezim Zionis menyerang kami, tepat di hari Minggunya tanggal 15, kami berencana melakukan pertemuan keenam di ibu kota Oman untuk melanjutkan pembicaraan kami dengan Amerika dan mungkin mencapai kesepakatan.
Tetapi yang kami rasakan adalah serangan dari rezim Zionis Israel didukung oleh Amerika Serikat dan kami menganggap bahwa negosiasi hanya merupakan jebakan semata bagi Iran agar memberikan ruang kepada rezim Zionis mempersiapkan dirinya.
Citra satelit menunjukkan kawah-kawah bekas serangan udara yang tertutup tanah di Fasilitas Pengayaan Natanz, menyusul serangan udara AS di tengah konflik Iran-Israel, di Daerah Natanz, Iran, 24 Juni 2025. Foto: Maxar Technologies/Handout via REUTERS
Yang kami perlukan sekarang untuk melanjutkan negosiasi adalah proses trust building antar kedua belah pihak, yaitu sebuah proses membangun kembali kepercayaan antar berbagai pihak. Dan mereka harus membuktikan kepada kami rasa tanggung jawab yang mereka akan punya terhadap keberlangsungan dari sebuah kesepakatan yang nantinya mungkin dicapai.
Tentu kami tetap berada di sisi di mana mendukung negosiasi, tetapi apakah demikian di pihak lain? Apakah demikian di pihak lawan dari negosiasi kami? Mereka harus siap membangun kembali kepercayaan yang sudah roboh dan sudah runtuh, dan luntur. Dan mereka harus membuktikan kembali bahwa mereka akan menjadi pihak yang bertanggung jawab dan menjamin keberlangsungan dari sebuah kesepakatan.
Seperti yang disampaikan, Iran adalah benteng terakhir untuk umat Islam dan juga untuk negara-negara berkembang. Mengapa saya bisa sebut demikian?
Dikarenakan bahwa kami sebagai negara yang bertekad menggunakan teknologi nuklir untuk tujuan damai dan telah menyampaikan jaminan dan kesiapan kami untuk memberikan jaminan apa pun kepada lembaga internasional yang secara teknis berwenang, yaitu IAEA (Badan Tenaga Atom Internasional/International Atomic Energy Agency), di mana IAEA melakukan monitoring secara berkesinambungan di berbagai situs nuklir Iran.
Bahkan tiga situs yang jadi sasaran Amerika, terdapat pengawasan dan kamera-kamera dari IAEA berada di dalamnya. Kami memberikan jaminan bahwa tidak akan mengalihkan program nuklir Iran ke bidang tidak damai atau pembuatan senjata. Kami sudah memberi, menyampaikan kesiapan, memberikan jaminan kepada IAEA, bahkan Amerika dan pihak lainnya.
Foto satelit dari Planet Labs PBC ini menunjukkan fasilitas pengayaan uranium Fordo di Iran (1/4/2025). Foto: Planet Labs PBC/viaREUTERS
Tetapi yang mereka sampaikan kepada kami bukan tidak boleh membuat bom, tetapi kami diminta untuk menghentikan pengayaan uranium. Saya rasa ini merupakan pendekatan dan cara yang bukan hanya salah, tetapi kesalahan yang sangat serius. Ini merupakan pendekatan keliru yang sangat berbahaya, dikarenakan negara kuat bisa memaksakan kehendak kepada negara lain.
Anggap saja Indonesia, dalam program keamanan energinya, memiliki rencana 30% dari energi yang ingin diproduksinya berasal dari sumber energi terbarukan, termasuk menggunakan reaktor-reaktor nuklir. Saya sampaikan, reaktor nuklir, energi nuklir, industri nuklir, tanpa pengayaan uranium, percuma adanya. Tidak memiliki nilai dan tidak secara maksimal dapat dimanfaatkan. Karena apa bedanya untuk Anda, mengimpor minyak atau mengimpor uranium yang sudah diperkaya?
Pertanyaan lain adalah, siapakah negara adidaya ini yang melihat dirinya berhak untuk melarang-larang negara lain, anggota IAEA, agar tidak menggunakan haknya? Jadi apabila hari ini kami berdiri di hadapan dari permintaan yang berlebihan ini, kami berdiri untuk semua negara berkembang. Apabila niat mereka dipaksakan kepada kami dan kami tunduk, maka ini akan berbahaya untuk semua negara berkembang.
Ini adalah bagian pertama dari penjelasan saya.
Dubes Iran untuk RI, Mohammad Boroujerdi. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Hal lain adalah ironisnya sama. Dan sebuah lelucon yang sangat pahit. Yang mana saya ceritakan untuk kita ketahui, ironi seperti apa yang kita hadapi. Sebuah rezim ilegal yang bukan anggota IAEA, yang bukan anggota NPT (Perjanjian Nonproliferasi Senjata Nuklir), tidak pernah menerima protokol tambahan dari NPT, tidak pernah menerima pengawasan dari Badan Tenaga Atom Internasional, atas pengakuannya memiliki 75 sampai dengan 400 hulu ledak nuklir, dan puluhan kali telah mengancam negara-negara yang berada di tetangganya, bahkan Jalur Gaza, untuk menggunakan bom nuklir, dengan dukungan dari negara lain yang menjadi pengguna, satu-satunya pengguna bom nuklir di Hiroshima dan Nagasaki dan pernah menyebabkan jutaan masyarakat tidak berdosa menjadi korban, sedang menekan sebuah negara seperti Iran yang menjadi anggota aktif dari IAEA, bagian dari NPT, melaksanakan protokol tambahan secara sukarela, dalam berbagai laporan IAEA disebutkan tidak ada pengalihan apa pun dari program nuklirnya ke tujuan tidak damai, mengumumkan berkali-kali dan ingin memberikan jaminan bahwa aktivitas nuklirnya akan terus di jalur yang aman dan damai, harus menerima paksaan dari Zionis dan Amerika untuk tidak melakukan pengayaan uranium. Mengapa? Karena ditakutkan dan dikhawatirkan menggunakan pengayaan uranium untuk tujuan tidak damai.
Apakah ini tidak lucu? Saya ingin kebenaran ini Anda ceritakan untuk para penonton yang melihat ini, agar mereka juga bisa tertawa terhadap lelucon yang sedang terjadi, keadaan ironis yang sedang kita hadapi.
Fasilitas pengayaan uranium Natanz di Teheran, Iran. Foto: Raheb Homavandi/reuters
Akankah Iran menutup Selat Hormuz jika Israel atau Amerika Serikat menyerang lagi?
Iran adalah [negara yang] pemerintahannya damai. Kami tidak ingin dan kami tidak memiliki inisiatif untuk menyerang negara mana pun [lebih dulu]. Sejak 200 tahun yang lalu, Iran tidak pernah menyerang tetangga atau negara lain mana pun, dan kami selalu cinta damai. Kami mengalami perang 8 tahun yang dikobarkan oleh Saddam Hussein (eks Presiden Irak) kepada Republik Islam Iran, dan kami membela diri. Sekarang, kami siap untuk membela diri.
Siapa pun yang menyerang kami, kami akan menyerang balik mereka. Tetapi jika tidak ada yang menyerang kami, kami tidak akan menyerang, kami tidak ingin memulai perang apa pun di kawasan ini. Karena kami tahu bahwa segala bentuk ketidakstabilan dan perang di kawasan ini akan berdampak pada dunia, perekonomian, dan perekonomian negara-negara damai seperti Indonesia. Jadi, kami percaya bahwa negara-negara Muslim harus bersatu dan membantu untuk menjaga perdamaian, keamanan, dan stabilitas di kawasan ini dan di dunia.
Israel mengeklaim memenangkan perang ini. Bagaimana tanggapan Anda?
Baik, biarkan mereka mengeklaim. Mereka punya beberapa tujuan dari serangan ini, Anda tahu itu. Yang pertama adalah untuk menghancurkan kemampuan nuklir dan pertahanan Iran. Saya bertanya kepada Anda, apakah kemampuan pertahanan Iran telah hancur?
Dan mereka... mereka ingin mengubah pemerintahan di Iran. Pergantian rezim adalah salah satu tujuan utama dari rezim Zionis Israel. Apakah pemerintahan Iran telah berubah?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar