terunik teraneh terselubung blogspot.com terlucu menarik di dunia tapi nyata dan terlangka aneh22 video gambar ajaib bin ajaib kau tuhan sungguh penuh kuasa unik77.tk unik4u unic77.tk gokil extreme medis kriminal arkeologi antariksa UFO dinosaurus kita flora fauna misteri bumi militer hiburan ekonomi bahasa teknologi sejarah politik tokoh hukum mumi rumor motivasi moral hewan tumbuhan tips trick kuliner otomotif pendidikan galleri musik sms hantu wallpaper artis indonesia foto hot syur panas download

>10.000 artikel menarik ada disini,silahkan cari:

Anak Dinilai Bisa Ungguli AI, Asal Diajari Karakter Ini! - my blog

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Anak Dinilai Bisa Ungguli AI, Asal Diajari Karakter Ini!
Mar 20th 2025, 13:00, by Nabilla Fatiara, kumparanMOM

Anak berhadapan dengan artificial intelligence (AI). Foto: Shutterstock
Anak berhadapan dengan artificial intelligence (AI). Foto: Shutterstock

Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang memungkinkan komputer untuk menjalankan tugas selayaknya manusia saat ini tidak bisa dihindari. AI dianggap bisa memudahkan pekerjaan manusia, begitu juga dapat memengaruhi cara belajar pada anak-anak.

Nah Moms, di era AI saat ini yang semakin canggih, anak pun perlu bersiap diri untuk bisa menghadapi kecerdasan dan kecanggihan AI di masa depan.

Menurut certified positive discipline parents educator, Damar Wahyu Wijayanti, diperlukan berbagai keterampilan untuk bisa menghadapi AI yang akan semakin berkembang dalam beberapa tahun ke depan. Bila anak tidak bisa mengikuti perkembangan atau bersaing, maka si kecil bisa tertinggal.

Maka dari itu, Damar menyebut karakter budi pekerti yang diajarkan kepada anak tidak sekadar membangun karakter anak, tetapi juga menyiapkan anak siap bersaing di masa depan.

"Budi pekerti ini disebutnya sebagai future ready skill. Jadi, memang skill yang sangat dibutuhkan anak untuk bisa siap di masa depan. Jadi sepenting itu," ungkap Damar dalam acara Taro Hunt Ramadan (THR): Petualangan Berburu Kebaikan di Youreka Kuningan City Mall, Jakarta, Sabtu (15/3).

Certified positive discipline parent educator, Damar Wahyu Wijayanti. Foto: Nabila Fatiara/kumparan
Certified positive discipline parent educator, Damar Wahyu Wijayanti. Foto: Nabila Fatiara/kumparan

Damar menjelaskan, penanaman nilai-nilai budi pekerti akan berperan penting dalam pengembangan berbagai keterampilan anak ke depannya.

"Apalagi nantinya di masa depan itu anak-anak kita saingannya bukan sama orang-orang lain, tetapi saingannya sama AI," tuturnya.

Tetapi, ia menekankan ada perbedaan antara anak-anak Anda dengan AI yang akan terus berkembang. Damar menyebut AI tidak memiliki karakter-karakter yang sama seperti manusia, dan itu akan sangat sulit ditiru.

"Apa nih yang bisa membedakan antara anak-anak di masa depan dengan AI yang serba bisa? Nah, salah satunya yang tidak bisa dimiliki (AI) adalah sesuatu yang human banget. Human banget itu apa? Budi pekerti, empati, compassion (kepedulian), itu akan sulit untuk ditiru sama AI," jelas Damar.

Oleh karena itu, Damar berpesan kepada para orang tua untuk mulai mengembangkan karakter dan menanamkan nilai-nilai kebaikan sejak kecil. Sehingga, kelak nantinya anak sudah lebih siap untuk bersaing dengan AI di masa depan.

"Walaupun AI lebih pintar dari manusia, tetapi dia enggak punya hati," ucap dia.

Orang Tua Bantu Anak Gunakan AI dengan Bijak

Anak berhadapan dengan artificial intelligence (AI). Foto: Shutterstock
Anak berhadapan dengan artificial intelligence (AI). Foto: Shutterstock

Di sisi lain, Damar mengakui kehadiran AI saat ini memang tidak bisa dihindari. Ia pun tidak memungkiri AI dapat memudahkan berbagai kebutuhan dalam hidup kita. Tetapi, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah anak mengalami dampak negatif dari AI.

"Terserah kitanya nih mau gimana untuk bisa mengajarkan anak menggunakan AI dengan bijak. Salah satu cara mengajarkan anak memakai AI dengan bijak adalah dengan menanamkan budi pekerti. Itu bisa membantu anak untuk tetap bisa bertindak jujur, penuh empati, dan tidak gampang menyerah, meskipun dia mendapat cukup banyak bantuan dari AI," ujar Damar.

Ia mencontohkan, Anda bisa mengajarkan anak tidak melakukan plagiasi atau meniru karya orang lain dalam mengerjakan pekerjaan sekolah. Lalu juga bisa menerapkan tips agar anak tidak mudah menyerah dalam melakukan sesuatu. Sebab, AI dianggap bisa membuat orang mudah terlena dan mencari cara instan dalam mengerjakan sesuatu, sehingga membuat seseorang jadi mudah menyerah.

"Sebenarnya AI ini skill penggunaan perlu dikembangkan, tapi juga perlu skill pendamping agar dia (anak) bisa menggunakan AI dengan bijak," tutup Damar.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar: