terunik teraneh terselubung blogspot.com terlucu menarik di dunia tapi nyata dan terlangka aneh22 video gambar ajaib bin ajaib kau tuhan sungguh penuh kuasa unik77.tk unik4u unic77.tk gokil extreme medis kriminal arkeologi antariksa UFO dinosaurus kita flora fauna misteri bumi militer hiburan ekonomi bahasa teknologi sejarah politik tokoh hukum mumi rumor motivasi moral hewan tumbuhan tips trick kuliner otomotif pendidikan galleri musik sms hantu wallpaper artis indonesia foto hot syur panas download

>10.000 artikel menarik ada disini,silahkan cari:

Mati Suri dan Tak Diakui, Timnas Wanita Afghanistan Kecewa pada FIFA - my blog

kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Mati Suri dan Tak Diakui, Timnas Wanita Afghanistan Kecewa pada FIFA
Mar 28th 2025, 14:36, by Tio Ridwan, kumparanBOLANITA

Timnas Sepak Bola Wanita Afghanistan. Foto: Aamir QURESHI/AFP
Timnas Sepak Bola Wanita Afghanistan. Foto: Aamir QURESHI/AFP

Sejak Taliban mengambil alih kekuasaan Afghanistan pada 2021, sepak bola wanita praktis menjadi barang terlarang di negara tersebut. Wanita dilarang terlibat dalam kegiatan olahraga. Wanita di atas 12 tahun pun tak lagi memperoleh pendidikan.

Begitu pula timnas wanitanya, yang sampai kini tak mendapat kejelasan. Mereka tak diakui secara resmi oleh pemerintahan Taliban.

Bagaimana nasib para pemainnya? Kebanyakan mengungsi. Ada yang ke Denmark, ada yang ke Australia. Sama nasibnya dengan pemain cabang olahraga lain. Pemain kriket, misalnya, juga mengungsi ke Australia. Duo pesepeda, Fariba and Yulduz Hashimi, kabur ke Australia untuk melanjutkan kariernya.

Para pemain tim sepak bola wanita nasional Afghanistan menghadiri sesi latihan di Odivelas, pinggiran Lisbon pada 30 September 2021. Foto: Patricia De Melo Moreira/AFP
Para pemain tim sepak bola wanita nasional Afghanistan menghadiri sesi latihan di Odivelas, pinggiran Lisbon pada 30 September 2021. Foto: Patricia De Melo Moreira/AFP

Kini, empat tahun berselang, kondisi belum banyak berubah. Para pemain masih telantar di negeri orang, sementara tim nasional mereka belum bisa kembali. Para pesepak bola wanita Afghanistan terus bersuara, namun situasi politik yang rumit menghalang-halangi mimpi mereka.

Akibatnya, sejak 2021, Khalida Popal dkk melewatkan banyak kesempatan berlaga di turnamen internasional. Mereka setidaknya telah melewatkan Piala Asia 2022, Piala Dunia Wanita 2023, Olimpiade Paris 2025, dan kini melewatkan pula kualifikasi Piala Asia Wanita 2026.

Dengan tak mengikuti Piala Asia, yang sekaligus menjadi kualifikasi Piala Dunia 2027, mereka otomatis melewatkan Piala Dunia yang akan digelar di Brasil itu.

Para pemain tim sepak bola wanita nasional Afghanistan menghadiri sesi latihan di Odivelas, pinggiran Lisbon pada 30 September 2021. Foto: Patricia De Melo Moreira/AFP
Para pemain tim sepak bola wanita nasional Afghanistan menghadiri sesi latihan di Odivelas, pinggiran Lisbon pada 30 September 2021. Foto: Patricia De Melo Moreira/AFP

Sebenarnya, FIFA bukannya tidak mendukung para pemain yang kehilangan kesempatan bermain itu. FIFA menyatakan bahwa mereka berkomitmen mendukung para pemain di luar Afghanistan, seperti menggelar training camp, memberikan staf dan pelatih untuk mendukung mereka, juga menggelar pertandingan persahabatan.

Meski begitu, tetap saja FIFA mengaku tidak bisa menjilat ludah sendiri dengan memberikan eksepsi pada peraturan yang mereka buat sendiri—bahwa untuk bermain mewakili sebuah negara sebagai tim nasional, sebuah tim perlu pengakuan dari negerinya.

Hal ini membuat para pemain kurang puas. Mereka merasa komitmen FIFA tersebut lamban dan tidak menyentuh akar masalah yang sebenarnya.

"Para pemain ingin bermain untuk negaranya. Mereka ingin mewakili para perempuan di Afghanistan, ingin agar bisa menjadi suara dalam perjalanan panjang yang senantiasa dibungkam," ujar Mursal Sadat, pemain Afghanistan, seperti diwartakan The Guardian, Selasa (25/3).

"Taliban mengambil tempat itu dari kami, dan tak cuma kami. Kini sudah jadi tahun ajaran keempat ketika perempuan tidak boleh pergi ke sekolah. Bagaimana kami bisa berharap Taliban mau berunding soal olahraga, kalau pendidikan saja tidak diperbolehkan buat perempuan?" tambahnya.

Khalida Popal, pelopor Timnas Wanita Afghanistan.  Foto: JAIME SALDARRIAGA / AFP
Khalida Popal, pelopor Timnas Wanita Afghanistan. Foto: JAIME SALDARRIAGA / AFP

Khalida Popal, salah satu perempuan pertama yang bekerja di federasi sepak bola Afghanistan, mengatakan bahwa komitmen FIFA merupakan langkah positif yang bisa mengakui pengorbanan para perempuan Afghan.

"Afghanistan bisa menjadi studi kasus untuk menunjukkan bagaimana badan internasional (seperti FIFA) bisa membuat sebuah sistem agar perempuan tidak kehilangan kesempatannya," kata Popal.

Kebanyakan pemain timnas Afghanistan yang berada di Australia membentuk sebuah tim dan mengikuti liga sepak bola wanita Australia di divisi ketujuh. Mereka, dan juga para atlet wanita lain yang tersebar di Albania, Italia, Portugal, Inggris, dan Amerika Serikat terpaksa harus lebih bersabar dan menunggu.

"Bagi kami, sepak bola adalah kekuatan," kata Popal kepada CBC. Apa pun mereka lakukan untuk tetap eksis, tak hanya sebagai pesepak bola, tapi juga sebagai perempuan. "Kalian tidak dilupakan. Kalian dilihat dan selalu didengar."

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar: