Pegawai Nazaha (Badan Antikorupsi) Arab Saudi mengikuti workshop bekerja sama dengan FBI AS. Foto: Instagram/@nazaha_en
KPK Arab Saudi yang disebut Nazaha semakin menggencarkan pemberantasan korupsi. Dalam gelombang penangkapan terbaru, sejumlah orang di sektor publik dan swasta diamankan. Termasuk di dalamnya dokter hingga polisi.
Nazaha dalam pernyataannya mengungkapkan, langkah keras itu sebagai bagian dari kampanye yang sedang berlangsung untuk membasmi korupsi dan memperkuat integritas di seluruh negara kerajaan itu.
Nazaha menegaskan kembali komitmen tegasnya terhadap transparansi, akuntabilitas, dan tata kelola yang baik.
Nazaha, KPK Arab Saudi. Foto: Twitter/@nazaha_en
Putaran investigasi terbaru telah menghasilkan beberapa penangkapan besar yang mencakup bea cukai, urusan kota, peradilan, pendidikan, perawatan kesehatan, dan sektor keamanan.
Saudi Gazette dalam laporannya per Rabu (2/7) menjelaskan beberapa kasus yang menonjol:
Dua pegawai bea cukai dan seorang pialang ditangkap setelah diduga menerima suap sebesar SAR 400.000 (sekitar Rp 1,7 miliar) untuk mempercepat proses impor truk secara tidak sah.
Seorang polisi dan seorang pegawai kota ditahan karena menerima SAR 110.000 (sekitar Rp 476 juta) dari pemilik bisnis sebagai imbalan untuk memfasilitasi ekstraksi dan penjualan logam ilegal dari gedung-gedung pemerintah. Skema ini dilaporkan menghasilkan laba lebih dari SAR 4,6 juta.
Seorang panitera pengadilan ditangkap setelah mengambil SAR 32.500 (sekitar Rp 140 juta) , sebagian dari SAR 65.000 yang dijanjikan, untuk mempengaruhi hasil kasus pidana dan mengamankan pembebasan.
Di sektor pendidikan, seorang warga ditahan karena menerima lebih dari SAR 230.000 (sekitar Rp 996 juta) untuk memanipulasi pemberian pekerjaan subkontrak pada proyek-proyek Kementerian Pendidikan.
Korupsi kotamadya menjadi sorotan utama dalam kasus-kasus baru tersebut. Seorang kepala departemen ditemukan memiliki SAR 7,1 juta (sekitar Rp 30,7 miliar) di rekening pribadi yang terkait dengan pembatalan denda komersial secara ilegal.
Di King Fahd Causeway, seorang karyawan tertangkap mengantongi lebih dari SAR 55.000 (sekitar Rp 238 juta) sebagai biaya penyeberangan. Dia juga menggunakan fasilitas izin pribadinya untuk membolehkan kendaraan yang tidak sah lewat. King Fahd Causeway adalah sebuah jembatan dan jalan lintas laut yang menghubungkan Kerajaan Arab Saudi dan Kerajaan Bahrain melintasi Teluk Arab.
Dalam kasus yang sangat serius, seorang petugas keamanan Kementerian Dalam Negeri dan seorang kaki tangannya ditangkap karena menculik seorang kolektor perusahaan dan mencuri SAR 707.000 (sekitar Rp 3 miliar).
Pelanggaran lainnya termasuk pegawai kota yang menerima suap untuk mengabaikan pelanggaran peraturan, pelanggaran toko, dan aktivitas konstruksi ilegal.
Sektor perawatan kesehatan tidak luput dari hal ini. Pejabat pengadaan senior di klaster kesehatan regional ditangkap karena meminta suap sebagai imbalan atas pemberian kontrak.
Seorang pejabat juga dituduh menawarkan SAR 100.000 (sekitar Rp 433 juta) kepada seorang kolega untuk memanipulasi hasil kontrak.
Seorang dokter di rumah sakit pemerintah ditangkap karena menerbitkan dokumen cuti medis palsu dengan imbalan pembayaran.
Pangeran MBS memimpin rapat kabinet pada Selasa (8/10/2024). Foto: X/@makkahregion
Nazaha menekankan bahwa semua individu yang terlibat dalam kasus-kasus ini akan dimintai pertanggungjawaban penuh, terlepas dari pangkat, afiliasi, atau status pensiun.
Pemberantasan korupsi Arab Saudi intensif dilakukan setelah Pangeran MBS diangkat sebagai Putra Mahkota pada 2017. Bahkan pangeran, menteri, dan pengusaha kelas kakap tak luput dari jeratan.
Nazaha secara berkala mengumumkan gelombang penangkapan orang-orang yang diduga terlibat korupsi dan suap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar