Jemaah haji Indonesia bersiap menaiki bus selawat seusai menunaikan umrah wajib di Masjidil Haram di terminal Syib Amir, Makkah, Arab Saudi, Minggu (11/5/2025). Foto: Andika Wahyu/ANTARA FOTO
Penempatan jemaah haji Indonesia di Makkah tahun ini dilakukan berbasis pada syarikah (perusahaan penyedia jasa), bukan kelompok terbang (kloter) seperti tahun-tahun sebelumnya. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas pelayanan.
Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Muchlis M Hanafi, menegaskan pendekatan ini dilakukan agar proses mobilisasi dan layanan saat puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) berjalan optimal.
Untuk tahun ini, ada delapan syarikah atau mitra yang melayani jemaah haji Indonesia, yaitu Al-Bait Guest melayani 35.977 jemaah, Rakeen Mashariq 35.090 jemaah, Sana Mashariq 32.570 jemaah, Rehlat & Manafea 34.802 jemaah, Alrifadah 20.317 jemaah, Rawaf Mina 17.636 jemaah, MCDC 15.645 jemaah, dan Rifad melayani 11.283 jemaah.
Muchlis mengungkapkan tujuan berbasis syarikah itu untuk memudahkan pengendalian dan memperjelas koordinasi di lapangan, serta memastikan jemaah haji Indonesia mendapatkan layanan optimal dan tertata.
"Penempatan jemaah berbasis syarikah di Makkah pada tahun ini, sangat urgent dan penting untuk menyukseskan layanan jemaah saat puncak haji di Armuzna. Penempatan jemaah haji Indonesia di Makkah berbasis syarikah mempertimbangkan proses pergerakan dan layanan kepada jemaah saat di Armuzna," kata Muchlis melalui keterangannya di Madinah, Kamis (15/5).
Petugas membantu mendorong kursi roda yang dinaiki seorang calon haji Indonesia kloter JKG 01 dari Madinah sesampainya di Hotel Al Ghader, Syisyah, Makkah, Arab Saudi, Sabtu (10/5/2025). Foto: Andika Wahyu/ANTARA FOTO
Gelombang Jemaah RI
Jemaah haji Indonesia diberangkatkan dalam dua gelombang. Gelombang pertama, jemaah mendarat di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah. Di kota Nabi, penempatan jemaah dilakukan tetap berbasis kloter.
"Pemberangkatan jemaah dari Madinah ke Makkah dikelompokkan berbasis syarikah. Ketika akan pulang ke Tanah Air, mereka akan dikembalikan pada kloter awal saat berangkat," ujar Muchlis.
Untuk jemaah haji yang berangkat pada gelombang kedua, mereka akan mendarat di Bandara King Abdul Aziz International Airport (KAAIA) Jeddah. Dari bandara, jemaah diberangkatkan dengan bus berdasarkan syarikah sesuai basis penempatan hotel di Makkah.
"Layanan di Makkah berbasis syarikah ini linear dengan pola pergerakan jemaah dari Makkah menuju Arafah, Muzdalifah dan Mina, serta layanan di dalamnya. Sehingga pengelompokan berbasis syarikah ini penting dalam rangka menyukseskan pelaksanaan puncak haji di Armuzna," ungkap Muchlis.
Mitigasi Pasutri & Pendamping Lansia Tepisah
Muchlis berupaya memitigasi kemungkinan dampak pendekatan berbasis Syarikah ini mengakibatkan ada sejumlah pasangan suami istri, anak dan orang tua, atau pendamping dengan lansia dan disabilitas yang terpisah karena beda syarikah (perusahaan penyedia jasa).
Sejumlah petugas menyambut seorang calon haji Indonesia kloter JKG 01 dari Madinah yang berkursi roda sesampainya di Hotel Al Ghader, Syisyah, Makkah, Arab Saudi, Sabtu (10/5/2025). Foto: Andika Wahyu/ANTARA FOTO
Langkah yang dilakukan antara lain melakukan identifikasi berbasis data terkait jemaah terdampak. Secara umum, jemaah yang tahun ini berangkat bersama pasanganya, tidak terpisah oleh pendekatan kloter berbasis syarikah. Demikian juga dengan anak dan orang tua atau disabilitas dengan pendampingnya, secara umum mereka tetap bersama atau tidak terpisah baik saat di Madinah maupun Makkah.
Memang ada pasangan suami istri yang terpisah, orang tua yang terpisah dengan anaknya, serta ada juga beberapa jemaah disabilitas yang terpisah dengan pendampingnya. Ini terus kita mitigasi agar dampaknya bisa diminimalisir dan jemaah tetap nyaman dalam beribadah," terang Muchlis.
"Sebagai bagian dari proses mitigasi, hal ini juga kita bahas dengan pihak Arab Saudi agar bisa didapat solusi terbaik," tambahnya.
Muchlis M Hanafi memastikan, seluruh jemaah, termasuk yang terpisah karena beda syarikah, tetap mendapatkan layanan sesuai dengan haknya. Saat ini, tercatat ada 92.437 jemaah yang sudah terbang ke Madinah dalam 235 kelompok terbang (kloter). Dari jumlah itu, ada 65 kloter dengan 25.547 jemaah yang sudah berangkat dari Madinah dan tiba di Makkah.
"PPIH telah mendistribsukan lebih dari 2 juta boks katering yang diberikan kepada jemaah haji. Sekitar 1,578 juta boks dibagikan di Madinah dan 476 ribu boks dibagikan di Makkah," ungkap Muchlis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar