Donald Trump dan Jerome Powell Foto: Carlos Barria/Reuters
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Jumat (20/6) kembali melontarkan keinginannya untuk memecat Jerome Powell, Ketua Federal Reserve (The Fed) yang telah lama menjadi sasaran kritiknya terkait kebijakan suku bunga yang dinilai terlalu tinggi.
"Saya tidak tahu kenapa Dewan tidak menyingkirkan (Powell)," tulis Trump dalam unggahan panjang di platform Truth Social yang berisi kritik tajam terhadap kebijakan The Fed.
"Mungkin, hanya mungkin, saya harus mengubah pikiran saya soal memecat dia? Tapi bagaimanapun, masa jabatannya juga akan segera berakhir," tambah Trump.
Ia menambahkan, "Saya sepenuhnya paham bahwa kritik keras saya membuatnya semakin sulit melakukan apa yang seharusnya dia lakukan, yaitu menurunkan suku bunga. Tapi saya sudah mencoba segala cara."
Secara historis, Ketua The Fed dianggap terlindungi dari pemecatan presiden kecuali atas dasar pelanggaran hukum atau penyimpangan etika berat. Namun, Trump berulang kali mengancam akan menguji dasar hukum itu dengan wacana pemecatan Powell yang sering kali ia lontarkan.
Meski demikian, Trump juga sering berubah haluan. "Saya tidak akan memecat dia," ujarnya di Gedung Putih pada 12 Juni lalu.
Pada Rabu (18/6), The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga di kisaran 4,25 persen hingga 4,50 persen serta memproyeksikan pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat disertai kenaikan angka pengangguran dan inflasi hingga akhir tahun.
Gubernur The Fed, Chris Waller, yang disebut-sebut sebagai kandidat kuat pilihan Trump untuk menggantikan Powell, mengatakan pada Jumat (20/6), dengan inflasi yang mulai melandai dan pasar tenaga kerja yang menunjukkan pelemahan, pemangkasan suku bunga bisa mulai dipertimbangkan pada Juli.
Namun, Waller tetap bergabung dalam keputusan bulat The Fed hari Rabu (18/6) untuk mempertahankan suku bunga, yang menunjukkan bahwa tak satu pun dari enam anggota Dewan Gubernur lainnya maupun lima presiden bank regional The Fed yang memiliki hak suara ingin "menyingkirkan" Powell. Keputusan di The Fed umumnya diambil melalui konsensus, dan perbedaan pendapat lebih dari dua suara tergolong langka.
Trump, yang terpilih karena diyakini dapat mengendalikan inflasi tinggi, selama masa jabatannya telah memberlakukan kenaikan tarif impor. Powell, sejalan dengan pandangan para ekonom, mengatakan bahwa kenaikan tarif tersebut justru akan dibebankan kepada konsumen dalam bentuk harga barang yang lebih tinggi.
Masa jabatan Powell akan berakhir pada Mei 2026, dan Trump diperkirakan akan mengajukan kandidat pengganti dalam beberapa bulan ke depan.
Putusan Mahkamah Agung AS pada Mei lalu meredakan kekhawatiran soal kemungkinan Trump memecat Powell. Dalam putusannya, para hakim menyebut bahwa The Fed adalah "entitas unik yang memiliki struktur kuasi-swasta."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar