Seorang pria Palestina membawa jenazah seorang anak yang tewas dalam serangan Israel, di Jabalia, di Jalur Gaza utara 16 Mei 2025. Foto: REUTERS/Mahmoud IssaIsrael telah mengintensifkan pembomannya dan membangun persenjataan di sepanjang perbatasan meskipun ada tekanan internasional yang meningkat agar melanjutkan perundingan gencatan senjata dan mengakhiri blokadenya di Gaza, tempat pemantau kelaparan internasional telah memperingatkan tentang kelaparan. Foto: REUTERS/Ammar AwadSerangan udara dan artileri difokuskan pada bagian utara daerah kantong kecil yang padat itu, tempat puluhan orang termasuk wanita dan anak-anak tewas semalam, kata juru bicara Kementerian Kesehatan Gaza Khalil al-Deqran. Foto: REUTERS/Mahmoud IssaSerangan hebat pada hari Jumat dilaporkan di kota utara Beit Lahiya dan di kamp pengungsi Jabalia, di mana layanan darurat Palestina mengatakan banyak mayat masih terkubur di reruntuhan. Foto: REUTERS/Ramadan Abed
Warga Palestina melarikan diri dari serangan tentara Israel di kawasan Jabalia pada hari Jumat (16 Mei). Serangan Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 250 orang sejak Kamis pagi (15 Mei), otoritas kesehatan setempat mengatakan pada hari Jumat, salah satu fase pemboman paling mematikan sejak gencatan senjata berakhir.
Dikutip dari Reuters, serangan udara dan artileri difokuskan pada bagian utara daerah kantong kecil yang padat itu, tempat puluhan orang termasuk wanita dan anak-anak tewas semalam, kata juru bicara Kementerian Kesehatan Gaza Khalil al-Deqran.
"Ke mana saya harus pergi? Saya, anak-anak saya, dan keluarga saya - ke mana kami harus pergi? Ke mana kami harus pergi?," kata seorang pengungsi, Fadi Tamboura. "Bagaimana saya akan melanjutkan hidup saya? Bagaimana saya akan hidup?," imbuhnya.
Serangan hebat pada hari Jumat dilaporkan di kota utara Beit Lahiya dan di kamp pengungsi Jabalia, di mana layanan darurat Palestina mengatakan banyak mayat masih terkubur di reruntuhan.
Asap mengepul dari Gaza setelah ledakan, seperti yang terlihat dari Israel, 16 Mei 2025. Foto: REUTERS/Ammar Awad
Tidak ada komentar:
Posting Komentar