Jul 6th 2024, 12:30, by Sinar Utami, kumparanBISNIS
Launching aplikasi Wondr by BNI di Menara BNI, Jakarta, Jumat (5/7/2024). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) atau BNI mengalokasikan belanja modal (capital expenditure) atau capex untuk sektor informasi teknologi (IT) senilai Rp 1,9 triliun pada tahun 2024.
Direktur Technology and Operations BNI, Toto Prasetio, mengatakan capex tahun ini naik dibandingkan tahun 2023 senilai Rp 1,2 triliun. Anggaran tersebut untuk meningkatkan kualitas dan keamanan nasabah demi menjaga dan meningkatkan kepercayaan nasabah.
"Capex IT kita tahun 2024 ini sekitar Rp 1,9 triliun. Jadi memang ada peningkatan, karena memang Bank BNI sedang melakukan transformasi besar," ujar Toto saat ditemui di Menara BNI, dikutip Sabtu (6/7).
Sebagian 10-15 persen untuk capex IT tersebut juga digunakan untuk menguatkan keamanan siber agar menghindari insiden keamanan sehingga pengembangan sisi security cukup besar secara signifikan.
Direktur Technology and Operations PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI Toto Prasetio. Foto: Ghinaa Rahmatika/kumparan
Perseroan sedang melakukan transformasi digital sehingga meluncurkan mobile banking versi terbaru yaitu wondr by BNI. Aplikasi wondr by BNI dilengkapi dengan 3 fitur yaitu Transaksi, Insight dan Growth.
"Di sisi yang kita ingin menjadi kayak platform transaksi. Transaksi banking platform untuk seluruh nasabah kita. makanya kita punya Wondr," tuturnya.
Dengan adanya 3 fitur tersebut, aplikasi ini memberikan kemudahan pengelolaan keuangan yang komprehensif untuk meningkatkan kemampuan transaksi pengguna, menjadikan wondr by BNI sebagai banking app baru yang relevan untuk memenuhi kebutuhan finansial setiap nasabah.
wondr by BNI mengimplementasi Artificial Intelligence (AI) sehingga data nasabah aman dari ancaman cyber. Faktor keamanan menjadi sangat penting. Aplikasi didesain dengan standar keamanan terbaik dengan stem keamanan yang berlapis.
"Layer paling atas itu edukasi ke nasabah, agar supaya menggunakan atau meng-keep passwordnya dengan hati-hati supaya tidak terjadi social engineering. Layer yang di bawahnya kita juga membuat under control terhadap aplikasinya," kata Toto.
"Yang ketiga layer di bawahnya kita apply teknologi security-nya, kita apply AI artificial intelligence.Artificial Intelligence untuk sebagai pada saat kita melakukan liveness detection," tambahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar